Dompu (Suara NTB) – Kasus campak di Kabupaten Dompu selama 2026 telah mencapai 260 kasus. Kendati tren meningkatnya terjadi pada Februari lalu, namun pemerintah terus mengoptimalkan upaya pencegahan melalui pemberian imunisasi campak bagi balita usia 9-59 bulan.
Namun, sejak dicanangkan pada Rabu (11/3) lalu, realisasi imunisasi campak baru 8 persen dari target 25.705 anak. “Hingga saat ini, realisasi imunisasi campak kita baru 8 persen,” ungkap Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Maria Ulfah, SST, M.Kes di Dompu, Senin (16/3) kemarin.
Dikatakan, Outbreak Response Immunization (ORI) campak yang dicanangkan kata Maria Ulfah, sebagai respon cepat terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular yang sudah terjadi di Kabupaten Bima. Terlebih Dompu sebagai daerah tetangga dan campak sebagai penyakit infeksi saluran pernapasan yang sangat menular.
Penyakit yang disebab oleh oleh virus morbillivirus ini, menyebar melalui percikan liur. Gejalanya berupa demam tinggi, bintik merah di kulit, batuk, pilek dan mata merah. Penyakit ini bisa mematikan bila terlambat ditangani dan umumnya menyerang anak–anak. “Penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi. Untuk membentuk kekebalan kelompok, pencapaian imunisasi minimal 95 persen,” jelasnya.
Pihaknya akan terus mendorong jajarannya di tingkat puskesmas untuk terus memasifkan realisasi imunisasi di lapangan. Terutama saat melakukan posyandu dengan sasaran anak – anak di puskesmas.
Ia juga mengingatkan, imunisasi campak sudah lolos verifikasi kehalalan,masyarakat tidak perlu khawatir. Termasuk soal dampak yang ditimbulkan setelah vaksin. Karena hanya memberikan tetesan pada mulut, dampak negative bagi kesehatan anak tidak ada. (ula) .

