Mataram (suarantb.com) – Ratusan pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kota Mataram memanfaatkan momentum Parade Budaya Ogoh-ogoh untuk berjualan di sepanjang rute acara, Rabu (18/3/2026). Kegiatan budaya tahunan tersebut tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga mendatangkan berkah ekonomi bagi masyarakat.
Pantauan Suara NTB sejak pukul 08.00 Wita menunjukkan para PKL mulai mendirikan lapak di sisi kiri dan kanan trotoar Jalan Pejanggik. Area berjualan membentang dari Simpang Empat Karang Jangkong hingga Simpang Empat Cakranegara di Jalan Selaparang. Seiring mendekati waktu pelaksanaan parade, jumlah pedagang dan pengunjung terus meningkat.
Sebagian besar pedagang merupakan masyarakat Muslim yang rutin memanfaatkan perayaan ini setiap tahun sebagai peluang usaha. Momentum tersebut semakin strategis karena bertepatan dengan bulan Ramadan, di mana kebutuhan masyarakat terhadap makanan dan minuman meningkat, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
Beragam jenis dagangan ditawarkan, mulai dari takjil, minuman segar, makanan ringan, hingga makanan berat. Kehadiran pedagang ini turut menambah semarak suasana parade yang terpantau padat oleh warga.
Pedagang Manfaatkan Parade Ogoh-Ogoh di Mataram untuk Tambah Penghasilan
Salah seorang pedagang asal Kelurahan Cakranegara Barat, Ningsih, mengatakan bahwa ia selalu berjualan saat parade ogoh-ogoh di Mataram. Menurutnya, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan selain berjualan takjil selama Ramadan.
“Alhamdulillah, sejak pagi tadi sudah cukup ramai. Pembeli terus berdatangan,” ujarnya sambil melayani pelanggan.
Ningsih yang menjual aneka minuman es dan makanan ringan berencana tetap berjualan hingga acara selesai pada pukul 16.30 Wita. Ia menilai antusiasme masyarakat sangat tinggi, baik dari warga Kota Mataram maupun dari luar daerah.
Ia bahkan memperkirakan jumlah pengunjung yang memadati kawasan tersebut mencapai ribuan orang. Selain wisatawan domestik, sejumlah warga negara asing juga terlihat hadir untuk menyaksikan sekaligus mengabadikan momen parade ogoh-ogoh.
“Semoga pengunjung terus bertambah dan dagangan kami laris sampai acara selesai,” harapnya.
Pedagang lainnya, Sumiatun menyampaikan hal senada. Ia menilai parade ogoh-ogoh merupakan momentum yang tepat untuk berjualan, mengingat tingginya jumlah pengunjung yang datang menyaksikan iring-iringan ogoh-ogoh dari masing-masing banjar.
“Lumayan, karena acaranya berlangsung sampai sore dan masyarakat terus berdatangan. Itu yang kami kejar dengan berjualan di sini,” katanya.
Meski enggan merinci pendapatan yang diperoleh, Sumiatun mengaku optimistis dapat meraih keuntungan yang cukup signifikan dibandingkan hari biasa.
Selain memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM, keberadaan para pedagang juga membantu memenuhi kebutuhan pengunjung selama berlangsungnya acara. Sinergi antara kegiatan budaya dan aktivitas ekonomi ini menjadi salah satu potensi yang terus berkembang di Kota Mataram setiap tahunnya. (pan)

