Mataram (suarantb.com) – Umat Hindu di Mataram, khususnya di Lingkungan Negara Sakah dan Sweta, Cakranegara, memiliki tradisi unik sekaligus menarik jelang perayaan Nyepi. Tradisi itu adalah Perang Api.
Menjelang matahari terbenam, tepat pada malam pengerupukan sebelum Hari Raya Nyepi, puluhan warga Lingkungan Negara Sakah dan Lingkungan Sweta Cakranegara di Kota Mataram melaksakan tradisi turun-temurun tersebut.
Tepat pada Rabu 18 Maret 2026, sekitar pukul 17.30 Wita, kegiatan saling serang dan memukul lawan dengan menggunakan daun kelapa kering (bobok) yang sudah menyala dengan api dilangsungkan.
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Perang Api tahun ini, berlangsung di Simpang Tiga, Negara Sakah, Cakranegara, Mataram. Perang melibatkan para pemuda di dua lingkungan tersebut.
Meski terlihat seperti pertengkaran serius, terdapat aturan tak tertulis yang disepakati antara kedua belah pihak, yakni tidak boleh ada rasa dendam atau niat mencederai.
Lurah Cakranegara Timur, I Gusti Agung Ngurah Oka, mengatakan, Perang Api merupakan rangkaian dari perayaan Hari Raya Nyepi 2026. Perang Api ini dilakukan setelah prosesi Pecaruan di Taman Mayura dan pawai Ogoh-Ogoh.
“Ini tradisi yang memang dari tahun ke tahun yang perlu kita pertahankan. Esensinya adalah membangun ritual yang bersama-sama untuk kebaikan,” ujarnya.
Perang Api Berlangsung Sejak 1838
Meski terkesan berbahaya, tradisi ini diyakini memiliki muatan sejarah dan kesakralan. Oka menyebut, Perang Api sudah berlangsung ratusan tahun lalu, tepatnya sejak 1838.
Perang Api ini dimaksudkan untuk menghilangkan bala atau musibah. Menurut penuturannya, pada masa silam, sebuah musibah yang dinamai “Grobok” atau kematian masal pernah terjadi. Karena itu, Perang Api ini diyakini sebagai cara untuk mengusir bala tersebut.
“Jadi intinya bahwa kami keluarga besar yang ada di Sweta maupun Negara Sakah melaksanakan acara ini dengan tulus ikhlas untuk kebaikan kita bersama,” terangnya.
Setelah melakukan perang api, bobok yang telah digunakan akan dibawa pulang ke rumah dan diletakkan bersama dengan sarana upacara caru.
Oka menegaskan tidak ada perbedaan signifikan terkait tata cara pelaksanaan Perang Api tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja terdapat sedikit perubahan pola, di mana biasanya perang dilakukan dengan saling lempar, beberapa tahun terakhir pola tersebut berubah dengan kontak langsung atau memukul.
“Tapi esensinya sekali yang perlu menjadi pencermatan kita adalah bahwa ini upaya dari kedua lingkungan, kedua masyarakat kita untuk bersama-sama menghilangkan hal-hal negatif terkait dengan kejadian yang di masa lalu itu,” tegas Oka.
Memastikan pelaksanaan berlangsung aman dan tertib, Kelurahan berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan TNI. Sejumlah personel gabungan Polri dan TNI terlihat ikut serta memantau pelaksanaan Perang Api ini.
“Semua sinergi, termasuk kami-kami yang di tataran paling bawah, Kelurahan, lingkungan, semua bersinergi bersama tokoh masyarakat, agama, dan pemuda tentunya untuk menjalin satu simakrama, silaturahmi yang bagus,” tuturnya.
Ia berharap, tradisi turun-temurun ini dapat terus dipertahankan oleh generasi selanjutnya. Bukan saja sebagai ajang selebrasi tapi juga sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi.
“Intinya adalah kita untuk membangun satu komunikasi ‘simakrama’ yang baik. Artinya tidak ada dendam, setelah ini semua akan ‘simakrama kembali,” pungkas Oka. (sib)

