Mataram (Suara NTB) – Sudah jadi pandangan umum bahwa perayaan lebaran adalah momen yang tepat untuk pamer baju atau barang baru. Namun, tidak bagi sebagian anak muda, terutama mereka yang lahir pada rentang 1997 hingga 2012 akhir atau kerap dijuluki generasi Z (Gen-Z).
Alih-alih sibuk cari mode atau tren fesyen terbaru, beberapa di antara mereka lebih memilih memakai baju lama untuk dipakai lebaran tahun ini. Prinsip sejumlah Gen-Z yang termasuk kategori ini sederhana; bila pakaian lama masih layak dikenakan, kenapa harus sibuk beli yang baru?
Fenomena ini memang tak tergolong baru, namun kecenderungan tersebut memancing pertanyaan sederhana; bila merayakan lebaran tidak dengan flexing baju baru seperti orang kebanyakan, lantas dengan apa lebaran seharusnya dirayakan?
Prinsip Habis Manis Sepah Dibuang Tidak Berlaku pada Gen-Z
Aura Urania Mritasamjiwani (21), Gen-Z asal Gunungsari, Kapek Atas, Lombok Barat, memilih tak membeli pakaian baru lebaran tahun ini. Ia mengaku, tak punya alasan kuat dan mendesak untuk membeli baju baru saat lebaran.
“Karena saya waktu lebaran cuma sekali kunjungan keluarga dan lebih banyak di rumah, jadi saya pakai baju yang biasa saya pakai sehari-hari,” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu (18/3).
Pada lebaran kali ini, Ia berencana memakai atasan Blouse lengan panjang warna biru tua, jilbab pashmina, dan celana jeans untuk bawahan.
Yang menarik, hampir seluruh kombinasi pakaian itu tidak ia beli sendiri, melainkan pemberian dari kakak dan ibunya.
“(Semua pakaian itu) lungsuran dari kakak dan ibu saya. Baju yang turun-temurun gitu,” ungkapnya.
Bahkan, ia mengaku, satu-satunya barang yang ia beli sendiri adalah celana jeans, dan jadi satu-satunya pakaian paling baru di antara pakaian lain lebaran tahun ini. “Celana jeans-nya beli, setahun yang lalu di shopee,” imbuh Aura.
Kendati demikian, mahasiswa jurusan PGSD, Unram itu, tak menafikan adanya keinginan untuk membeli pakaian baru. Akan tetapi, prinsip yang dipegang keluarga bahwa jika baju lama masih layak pakai, membeli baju baru adalah pemborosan.
“Jadinya saya tidak beli baju, dan akhirnya tidak sepingin itu juga karena duitnya saya pake buat beli make-up,” terang Aura.
Ketimbang membuang duit untuk berburu koleksi pakaian baru, Aura memilih merayakan lebaran dengan makan kue dan masakan khas lebaran. “Dibandingkan baju lebaran, saya merasa dua hal itu yang lebih ikonik dengan lebaran,” pungkasnya.
Hasrat Pamer Kian Terkikis, Finansial Bukan Alasan Tak Membeli Baju Baru
Mirip Aura, Gen-Z asal Rempung, Lombok Timur, Usmuhardini (21) juga memutuskan tidak membeli baju baru untuk merayakan hari besar Islam itu tahun ini.
Andin, sapaan akrabnya, bahkan berencana menggunakan gamis lebaran sebelumnya. Perangkat seperti sepatu, sendal anyar pun enggan dibelinya. “Malah jilbabnya itu juga jilbab waktu saya di pondok itu saya pakai kayaknya,” tuturnya.
Mahasiswa jurusan PGSD, Unram itu beralasan bahwa tidak ada motivasi realistis yang mendorongnya untuk memboyong seragam lebaran. Ia juga menepis bahwa faktor finansial jadi penyebab tak checkout baju baru.
“Finansial kayaknya enggak (jadi alasan). Memang udah engga ada kayak rasa ingin beli aja. Kalau pengen beli, tinggal beli, minta duit. Tapi memang udah enggak ada niat beli,” jelasnya.
Andin bahkan mengaku, keinginan untuk pamer baju ke keluarga kala Lebaran sudah lama hilang pada dirinya. Hal itu ia rasakan dan sadari seiring berjalannya waktu.
“Dulu kalau masih kecil kita kayak pamer-pamer baju baru, sandal baru ke temen-temen atau ke keluarga yang lain. Kalau sekarang itu karena mungkin udah engga ada temen, engga ada keluarga lagi yang bisa kita jadikan tempat pamerin, jadinya udah engga se-excited dulu,” bebernya.
Alih-alih pamer benda material, Andin memilih cara yang lebih esensial untuk merayakan lebaran tahun ini. Yang ia maksud adalah memaknai lebaran dengan memperkuat komunikasi yang lebih harmonis di internal keluarga.
“Menurut saya seharusnya mungkin selain dengan baju baru dan segala macam itu, lebih ke kayak ngobrol-ngobrol, lebih menyambung silaturahmi,” pungkasnya.
Laki-laki Tak Kalah Simpel Soal Pakaian
Perkara fesyen ataupun mode, laki-laki cenderung lebih simpel. Jika mayoritas perempuan harus membeli atasan, bawahan, hingga kerudung dengan menimbang aspek mix and match (padu-padan), laki-laki hanya berkutat di seputar songkok, sarung, dan baju koko. Sehingga, alih-alih memusingkan baju keluaran terbaru, beberapa diantara mereka lebih senang memanfaatkan seragam lama yang itu-itu juga.
Hal demikian juga yang dipraktikkan Farhan (22) Gen-Z asal Kapek Atas, Gunung Sari. Tak terbersit dbenaknya akan membeli baju baru pada momen lebaran 2026 ini. Baju koko yang akan ia pakai merupakan pembelian tiga tahun silam.
“Kayaknya baju koko yang saya pakai ini sudah sering saya pakai setiap Idul Fitri untuk salat id, sudah bertahun-tahun berkali-kali,” ceritanya.
Perkara sarung dan peci pun,ia tak ambil pusing. Sarung dan peci untuk ibadah sehari-hari, ia rasa masih layak pakai. Jika ada satu pakaian baru, maka sarung pemberian ibunya adalah barang yang dimaksud. “Kadang sarungnya yang baru karena dari hadiah, bukan beli,” tutur mahasiswa asal Unram tersebut.
Lagi-lagi, alasannya enggan membeli pakaian bukan karena faktor ekonomi, tapi soal prinsip, di mana barang yang dibeli mesti bersifat utilitatif, bukan keinginan temporal. Menurut Farhan, jika baju koko lama misalnya bisa dipakai untuk salat Idulfitri sekaligus ibadah setiap hari, maka membeli baju baru lebaran jadi tidak efektif.
“Jadi menurut saya tidak efektif. Dan harus keluar lagi ke toko beli baju. Lumayan ribet kalau beli baju pas mau lebaran ini, antre-antre,” kata Farhan.
Daripada membeli baju keluaran terbaru, Farhan lebih suka mencari baju seken, itupun jika ia kebelet belanja. Dengan demikian, berburu pakaian bekas (thrifting) jadi cara paling ia sukai kalau ingin mencari pengganti baju lama.
Bagi Farhan, silaturahmi adalah aspek paling penting dari perayaan lebaran ketimbang sibuk mengoleksi benda material seperti baju anyar. “Menurut saya yang penting untuk perayaan lebaran itu silaturahmi sama keluarga, salat id paginya, mendengarkan khotbah, terus silaturahmi sama keluarga, dan berziarah ke kuburan,” tandasnya.
Tak berbeda dengan Farhan, Raushan Fikri Heryanto Putra (21) Gen-Z asal Kopang juga bertekad tak “mengangkut” baju dari anger toko pakaian untuk keperluan lebaran. Bukan tanpa alasan, Mahasiswa FHISIP Unram itu, tak punya motivasi yang mendesak untuk memiliki seragam baru.
Baginya, pakaian lebaran sebelumnya sama saja dengan tahun ini. Untuk keperluan salat Idulfitri, pria yang akrab disapa Fikri itu hanya mengenakan sarung dan baju Koko yang ia pakai lebaran sebelum-sebelumnya.
“Untuk alas kaki, sendal sehari-hari yang biasa saya kenakan itu saya pakai,” tuturnya.
Fikri menegaskan, ia bukan tipikal orang yang mudah terjebak dengan sikap validatif. Alih-alih mencari perhatian dan pengakuan dengan memamerkan benda material, Fikri lebih memilih memanfaatkan momen lebaran untuk meng-upgrade diri.
“Kalau lebaran lebih suka memikirkan tahun ini skill apa yang meningkat? Juga, lebih banyak membangun relasi harmonis dengan keluarga melalui komunikasi yang baik,” ungkapnya.
Fenomena Konsumsi Refleksif
Sementara itu, Sosiolog asal Unram, Dwi Setiawan Chaniago, menjelaskan fenomena keengganan membeli baju baru lebaran di kalangan Gen-Z sebagai indikasi fenomena konsumsi refleksif.
Konsumsi refleksif merupakan salah satu ciri masyarakat urban modern yang dalam tindakan konsumsi dilakukan dengan berefleksi melalui pertimbangan dan evaluasi untuk membeli atau tidak membeli, menunda atau bahkan menegosiasikan kebutuhannya.
Dwi menerangkan, sebagai proses refleksif, kegiatan konsumsi atau berbelanja baju baru tidak hanya bermuara pada keputusan untuk membeli atau tidak membeli namun juga disertai kesadaran untuk mengkalkulasikan dan memunculkan alternatif dan pilihan yang paling rasional untuk dilakukan.
Fenomena sejumlah Generasi Z yang cenderung enggan membeli baju baru disebutnya, sebagai sebuah manifestasi konsumsi refleksif merupakan perpaduan antara perubahan posisi status sosial, tekanan ekonomi, dan perubahan nilai generasional.
“Ketiga hal tersebut membentuk kondisi, tantangan dan transformasi dalam logika konsumsi Generasi Z,” ujarnya kepada Suara NTB.
Dwi menuturkan, perilaku konsumsi yang cenderung bersifat refleksif merupakan bentukan dari perubahan posisi status sosial, tekanan ekonomi dan perubahan nilai generasional. “Tindakan ekonomi ini tidak hanya soal kemampuan finansial namun berpadu dengan tumbuhnya kesadaran evaluatif dalam mempertimbangkan banyak hal,” jelasnya.
Di sisi lain, proses renegosiasi yang dibangun oleh Generasi Z merupakan bentuk refleksi yang terbentuk dari pengetahuan dan pengalaman khas mereka sebagai generasi digital (digital native) yang lebih terbuka, sadar finansial, memiliki literasi berbelanja yang baik serta mengedepankan value untuk menentukan sesuatu yang dianggap worth it atau tidak.
“Dengan kata lain, dalam menyambut lebaran muncul variasi baru dalam konsumsi yakni dari semula konsumsi sebagai bagian dari norma sosial dimana baju baru sebagai bagian dari kebiasaan atau tradisi ke konsumsi atas dasar keputusan refleksif yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan,” pungkasnya. (sib)

