Sabtu, Maret 21, 2026

BerandaBUDAYA DAN HIBURANKepasrahan, Pengharapan, dan Juru Selamat

Kepasrahan, Pengharapan, dan Juru Selamat

PUISI-puisi Mario D. E. Kali dalam buku puisi Hari Tuhan bagi Kalanuk (Makhsara Books, 2024) merupakan puisi naratif yang dekat dengan bentuk prosa. Kita bisa mudah mengidentifikasi penokohan, plot, hubungan antar larik dan bait yang menyusun potongan peristiwa. Subjek puisi dalam wujud aku-lirik maupun sudut pandang orang kedua dan ketiga ditampilkan sebagai sosok yang leluasa menyampaikan pikiran atau perenungannya. Melalui keleluasaan itu, pembaca akan mudah menangkap pesan yang ingin disampaikan di puisi.

Kebanyakan tokoh dalam puisi Mario merupakan sosok-sosok yang diliputi kesulitan hidup dan kepasrahan. Nuansa itu tergambarkan melalui pilihan kata atau frasa: keraguan, pasrah, patah hati, nelangsa, sumbang, kehilangan, pupus, menangis, kelemahan, meratap, pedih, sedih sekali, dan sebagainya.

Meski demikian, kondisi kepasrahan itu hanya terlihat di bagian awal puisi atau ditempatkan di bagian larik awal dalam satu bait beberapa puisi. Para tokoh itu akan menemukan jalan keluar dari segala permasalahan yang dihadapi melalui sosok atau pun peristiwa yang akan menyelamatkannya, yang pada banyak puisi bisa muncul secara tiba-tiba.

 Suara-suara sumbang bergema di sisi pengharapanku:

Gerutu keraguan juga ujud doa penuh keyakinan

Dari orang-orang yang lama telah dan baru saja menyertaiku

Namun yang menghibur diriku adalah keheninganku

sendiri di tengah kebisingan

Sembari menyondongkan telinga lebih dekat ke suara panggilanMu

Sembari meresapi makna seruan para pejuang sejati:

Nulla tenaci invia est via

Bagi orang yang mau terus berjuang, tidak ada jalan yang tak bisa dilewati

(Jalan Panggilan, halaman 15)

Puisi itu bisa mewakili pola yang bisa ditemui di banyak puisi dalam buku ini, meski tentu bentuknya tidak sama persis. Pada “Jalan Panggilan” aku-lirik memiliki persoalan dari sisi mental tokoh. Suara sumbang mengganggu pikiran tokoh puisi itu. Dalam puisi itu, aku-lirik mengalami kegalauan, Dilema hatiku adalah kerumitan terberat memilih arah jalan. Sosok aku lirik yang mengalami kegundahan terselematkan setelah berserah diri ke suara panggilanMu. Partikel -Mu, dengan penggunaan huruf M kapital merujuk pada penulisan Tuhan dalam kaidah bahasa Indonesia. Dengan begitu, bisa dimaknai tokoh aku-lirik diselamatkan melalui kehadiran Tuhan.

Di banyak puisi lainnya, sosok penyelamat hadir dalam wujud sosok Tuhan. Sosok Tuhan itu merupa dalam kata-kata: Yang Mahasuci, -Mu, Tuhan, Kaka Yesus, Yesus, Sang Sabda, dan sebagainya. Jika melihat istilah penyebutan Tuhan yang digunakan Mario, maka akan merujuk kepada Tuhan dalam kepercayaan Nasrani, atau lebih khusus lagi Katolik.

Dalam kepercayaan Katolik, Yesus dipercaya sebagai juru selamat yang diutus Bapa di Surga ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Jika dikaitkan dengan puisi-puisi Mario, kehadiran sosok Tuhan dalam puisi itu meniru konsep Tuhan dalam ajaran Katolik: Tuhan hadir sebagai penyelamat tokoh manusia dalam puisi.

Pola hubungan masalah dan penyelesaian masalah tersebut juga berkait erat dengan tema keseluruhan yang ada di Buku Puisi Hari Tuhan bagi Kalanuk. Pembaca bisa merasakan ada tarik-menarik antara tradisionalitas dan modernitas. Unsur-unsur yang mewakili tradisionalitas dan modernitas itu tidak saling tolak menolak, melainkan berusaha berkompromi atau bernegosiasi agar keduanya berjalan beriringan, sehingga dunia yang digambarkan tidak baik-baik saja tidak jatuh ke dalam kehancuran yang fatal.

Kita bisa menemukan dua pasang kutub antara tradisional dan modern yang saling tarik-menarik dalam puisi Mario. Pasangan pertama, yaitu unsur kepercayaan adat yang mewakili agama tradisional dengan agama Katolik yang mewakili sisi agama modern. Pasangan kedua, adanya unsur kampung halaman yang mewakili sisi tradisional dengan daerah perantauan yang mewakili sisi modern. Secara keseluruhan, keempat tema itu menjadi tema besar dari puisi-puisi Mario di buku ini.

Meski demikian, walau terlihat para tokoh dalam puisi-puisi Mario merupakan sosok-sosok yang pasrah dan ingin diselamatkan, para tokoh dalam beberapa puisi tetap memunculkan sikap skeptis terhadap apa saja yang mewakili unsur modern, baik agama maupun daerah perantauan. Namun, tokoh dalam puisi itu tidak benar-benar menolak atau membantah kehadiran agama atau pun daerah perantauan itu. Kondisi itu bisa dilihat dari pemilihan akhir atau penutup puisi dari puisi-puisi yang memiliki nuansa kritis.

Gambaran dunia dalam puisi-puisi Mario bukanlah dunia serupa labirin tanpa jalan keluar. Dunia di puisi Mario adalah seperti terowongan gelap dengan setitik cahaya dari ujung terowongan, cahaya tersebut jadi simbol doa dan harapan, bahwa akan selalu ada jalan keluar dari situasi yang sulit.

Dunia puisi Mario dipengaruhi oleh sikap mental para tokohnya, yang dihantui kebimbangan, ketakutan. Namun para tokoh itu percaya, akan ada; akan selalu ada juru selamat bagi orang yang terus menjaga lilin harapannya tetap menyala; bahwa orang berpengharapan akan selalu menunggu dengan kesabaran, bahwa penyabar akan selalu sadar untuk berharap. (Rony Fernandez)

Catatan: Versi ulasan lebih lengkap pernah dibacakan dalam kegiatan Perayaan Buku Hari Tuhan bagi Kalanuk yang digelar Komunitas Akarpohon bersama Makhsara Books melalui Zoom Meeting, 20 Agustus 2024.

IKLAN
Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN

Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM







VIDEO