Selong (Suara NTB) – Angin dingin khas pegunungan menyapa lembut hamparan savana yang membentang hijau di kaki Gunung Rinjani. Namun, suasana teduh itu berubah menjadi hiruk-pikuk keramaian sejak hari pertama Lebaran 2026. Kawasan Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, bertransformasi menjadi lautan manusia yang memburu pesona “laki”—panggilan akrab bagi Gunung Rinjani.
Magnet pariwisata yang telah ditetapkan sebagai destinasi prioritas ini kembali membuktikan tajinya. Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara membanjiri dataran tinggi tersebut, menciptakan fenomena lonjakan kunjungan yang membuat para pelaku akomodasi sempat kewalahan.
Di sebuah homestay bercat hijau toska dengan arsitektur joglo khas Sasak, Giffari Saputra sibuk memandu stafnya merapikan teras. Pemilik Homestay dan Restoran Joglo Sembalun Ceria itu tak bisa menyembunyikan senyum tipis di balik wajah lelahnya.
“Sejak hari H+ Lebaran, kunjungan wisatawan di Sembalun tiap hari terus meningkat. Buktinya, hampir seluruh hotel maupun penginapan di sini sudah full booked,” ujarnya kepada wartawan di sela kesibukannya, Senin, 23 Maret 2026.
Ia bersyukur bahwa meski permintaan melonjak tajam, para pengelola akomodasi di Sembalun sepakat menjaga stabilitas harga. “Untuk hari besar seperti Lebaran, harga kamar kami patok di kisaran Rp400.000. Hanya selisih tipis dari harga hari biasa Rp350.000. Artinya, harga masih sangat kompetitif dan bisa dijangkau wisatawan yang ingin menikmati suasana dingin khas pegunungan,” imbuhnya.
Namun, Sembalun di musim liburan kali ini tak hanya tentang penginapan dan kuliner. Sebuah tren baru tengah naik daun di kalangan generasi Z dan milenial: tektok-kan—istilah lokal untuk mendaki cepat dalam waktu singkat ke bukit-bukit ikonik.
“Kalau malam hari, kita bisa lihat indahnya cahaya lampu dari tenda-tenda wisatawan di atas bukit. Sekarang yang lagi viral itu tren tektok-kan, mendaki cepat yang sangat digemari anak muda,” jelas Giffari dengan nada antusias.
Bukit Pergasingan, Bukit Anak Dara, Bao Daya, Nanggung, hingga Semvana menjadi primadona baru. Di sana, para pendaki kilat berburu matahari terbit dari ketinggian, menikmati hamparan awan di bawah kaki, lalu turun sebelum siang menjelang.
Tak kalah ramai, destinasi swafoto seperti Kedai Sawah, Bukit Selong, Taman Surga Rinjani, hingga wisata petik stroberi menjadi titik-titik keramaian utama yang tak pernah sepi antrean.
Amaq Ici, pengelola penginapan yang telah puluhan tahun membuka pintu bagi wisatawan di Sembalun, mengaku pengalaman Lebaran tahun ini menjadi salah satu yang paling luar biasa. Namun, di balik euforia itu, ada cerita tentang tamu-tamu yang datang tanpa reservasi.
“Banyak tamu yang tidak kebagian kamar. Saya coba carikan di tempat lain juga sudah penuh semua. Akhirnya, terpaksa saya arahkan untuk menggunakan tenda agar tetap bisa bermalam,” tuturnya sambil menghela napas.
Kondisi serupa dialami Hendiawan, pemilik Pondok Mawar. Ia mengungkapkan bahwa seluruh tipe kamar—mulai dari family room hingga kamar standar—telah habis dipesan jauh-jauh hari. “Sejak satu bulan sebelum Lebaran, semua sudah penuh,” ucapnya singkat.
Suhardi, wisatawan asal Mataram, mengaku nyaris gagal mendapatkan tempat menginap meskipun ia tergolong pelanggan setia Sembalun. Pria paruh baya itu terlihat duduk santai di teras sebuah villa sembari menikmati secangkir kopi Lombok.
“Ini pengalaman penting. Meskipun sering ke Sembalun, kalau momen libur besar seperti ini tidak booking jauh hari, pasti tidak dapat kamar. Saya beruntung masih bisa dapat satu villa untuk keluarga setelah menghubungi hampir semua kontak penginapan yang saya punya,” ceritanya sambil tertawa lega.
Ia berharap pengalamannya menjadi catatan bagi calon wisatawan lain yang ingin merasakan magisnya Sembalun di musim liburan.
Bagi para pengunjung, Sembalun memang tak pernah gagal memikat. Udara sejuk yang membelai kulit, hamparan savana yang membentang luas, serta keramahan masyarakat setempat menjadi perpaduan sulit dilupakan.
Namun, di balik pesona itu, ada pembelajaran bahwa kesiapan adalah kunci. Bagi Anda yang merencanakan perjalanan ke Sembalun, pesona alamnya yang memukau dan udara sejuknya memang tak tergantikan. Namun, pastikan persiapan akomodasi Anda telah matang agar liburan di kaki Rinjani menjadi momen yang sempurna dan tak terlupakan.
“Sembalun ini ibarat perempuan cantik. Semua orang ingin datang meminang. Tapi kalau tak siap, ya jangan harap bisa bermalam di pelukannya,” demikian kata Gifari. (rus)

