Rabu, Maret 25, 2026

BerandaNTBKOTA MATARAMZiarah Kubur saat Lebaran Jadi Tradisi, Pedagang Bunga Panen Rezeki

Ziarah Kubur saat Lebaran Jadi Tradisi, Pedagang Bunga Panen Rezeki

 

USAI melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah, sejumlah jamaah di Kota Mataram tidak langsung pulang ke rumah. Mereka justru bergegas menuju tempat pemakaman umum (TPU) untuk berziarah ke makam keluarga, melanjutkan tradisi tahunan yang telah mengakar di tengah masyarakat.


Pemandangan tersebut terlihat di sejumlah TPU, salah satunya di TPU Karang Medain, Jalan WR Supratman, Kelurahan Mataram Barat. Sejak pagi Sabtu (21/3/2026) hingga Selasa (24/3/2026), arus peziarah tampak silih berganti memasuki area pemakaman. Mereka membawa bunga tabur, air, hingga perlengkapan doa untuk mengenang keluarga yang telah berpulang.


Di sisi lain, momentum ini juga membawa berkah tersendiri bagi para pedagang bunga rampai. Sejumlah pedagang terlihat berjajar di pintu masuk TPU, menawarkan bunga yang telah dikemas rapi dalam plastik putih. Interaksi antara peziarah dan pedagang menciptakan dinamika tersendiri yang memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan turut menggerakkan roda ekonomi rakyat.


Salah seorang pedagang bunga rampai di TPU Karang Medain, Nengah Tantri (65), mengaku momen Ramadan hingga Idulfitri selalu menjadi waktu yang paling dinantikan setiap tahunnya.
“Saya mulai jualan dari Sabtu pas Lebaran sampai sekarang (Selasa, 24/3/2026),” ujarnya.


Ia menuturkan, puncak keramaian terjadi pada hari pertama Idulfitri, Sabtu (21/3/2026). Pada hari tersebut, jumlah peziarah membludak sehingga ia mampu meraup pendapatan hingga sekitar Rp750 ribu dalam sehari. Bahkan, pada hari berikutnya ia masih memperoleh sekitar Rp300 ribu.
Meski terlihat menguntungkan, Nengah mengungkapkan bahwa modal yang dikeluarkan untuk membeli bahan bunga juga cukup besar, yakni sekitar Rp350 ribu. Bunga-bunga tersebut didatangkan dari berbagai daerah dengan jenis yang beragam. “Keuntungannya ada, tapi tetap tergantung ramai tidaknya orang ziarah,” katanya.


Memasuki hari ketiga pasca-Lebaran, jumlah pengunjung mulai berkurang. Namun, ia tetap bertahan berjualan karena biasanya peziarah masih datang, terutama pada pagi dan sore hari.
Adapun jenis bunga yang dijual antara lain kenanga, pacar galuh, panca air, hingga gemitir. Bunga tersebut dirangkai menjadi satu paket dan dijual dengan harga Rp10 ribu untuk tiga bungkus.
Nengah mengaku telah menekuni usaha ini selama hampir 40 tahun. Meski bersifat musiman, berjualan bunga rampai saat Lebaran menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan yang cukup berarti. “Kalau hari biasa saya jual gorengan di pasar,” ujarnya.


Hal serupa disampaikan pedagang lainnya, Marni. Ia mengatakan momen Idulfitri selalu menjadi puncak keramaian dibandingkan menjelang Ramadan. Banyak warga yang pulang kampung memanfaatkan waktu untuk berziarah ke makam keluarga. “Lumayan ramai dari hari pertama Lebaran, tapi sekarang sudah mulai sepi,” katanya.


Fenomena ziarah kubur usai salat Id tidak hanya mencerminkan nilai religius masyarakat, tetapi juga memperlihatkan kuatnya ikatan sosial dan budaya yang terus terjaga. Di tengah suasana penuh khidmat, aktivitas ini sekaligus menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat kecil yang menggantungkan penghasilan dari tradisi tahunan tersebut. (pan)

 

IKLAN
Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN

Ucapan Selamat Pelantikan Rektor Baru UNRAM







VIDEO