Mataram (Suara NTB) – Warga di wilayah Alas, Kabupaten Sumbawa, menyampaikan surat terbuka kepada Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu. Muhamad Iqbal terkait melonjaknya harga elpiji 3 kilogram yang dinilai semakin memberatkan masyarakat.
Surat tebuka ini disebar ke group percakapan WhatsApp. Dalam surat tersebut, dikeluhkan harga elpiji bersubsidi yang mencapai Rp60.000 per tabung di tingkat pengecer. Angka itu jauh di atas harga yang seharusnya dapat dijangkau oleh masyarakat, khususnya kalangan ekonomi lemah yang sangat bergantung pada elpiji 3 kg untuk kebutuhan sehari-hari.
“Di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit, harga elpiji justru melambung tinggi. Ini sangat memberatkan kami,” bunyi surat terbuka tersebut.
Perwakilan warga Alas ini juga menilai kondisi ini bertolak belakang dengan harapan terhadap komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mereka berharap pemerintah provinsi dapat segera turun tangan untuk menstabilkan harga dan memastikan distribusi elpiji berjalan lancar serta tepat sasaran.
Beberapa poin tuntutan juga disampaikan kepada gubernur. Di antaranya, melakukan pengawasan ketat terhadap distribusi elpiji 3 kg di wilayah Sumbawa, khususnya di Alas.
Menindak tegas oknum yang bermain dalam rantai distribusi Elpiji bersubsidi. Memastikan harga elpiji 3 kg kembali sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Dan menghadirkan solusi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Menanggapi hal ini, Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Niken Arumdati di Mataram, Rabu, 25 Maret 2026 menjelaskan bahwa secara pasokan, elpiji di NTB tidak mengalami kelangkaan.
Berdasarkan informasi dari Hiswana Migas dan Pertamina Patra Niaga, penyaluran elpiji dalam beberapa hari terakhir justru telah ditingkatkan secara signifikan melalui kebijakan extra dropping. Sejak 17 hingga 25 Maret 2026, distribusi elpiji mencapai sekitar 250 persen dari alokasi harian, dengan total penyaluran sekitar 87.360 tabung.
“Secara stok sebenarnya aman. Yang terjadi di lapangan lebih pada peningkatan konsumsi dan pergeseran pola permintaan,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, lonjakan konsumsi dipicu oleh arus mudik, di mana banyak masyarakat kembali ke daerah asal seperti Lombok Timur dan Sumbawa, sehingga permintaan di wilayah tersebut meningkat tajam. Sementara itu, konsumsi di wilayah perkotaan seperti Mataram justru cenderung menurun.
Menurutnya, kondisi ini bersifat sementara dan diperkirakan akan berangsur normal setelah puncak arus mudik berakhir dan aktivitas masyarakat kembali berjalan seperti biasa.
Sebagai langkah tindak lanjut, Dinas ESDM NTB bersama BPH Migas dan Dewan Energi Nasional telah melakukan monitoring langsung ke Depo Elpiji Sekotong. Kegiatan ini bertujuan memastikan ketersediaan stok, kelancaran distribusi, serta mengidentifikasi potensi kendala di lapangan.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) menegaskan bahwa penyaluran elpiji subsidi 3 kilogram di wilayah Lombok tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, meskipun terjadi peningkatan konsumsi menjelang dan setelah hari besar keagamaan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa lonjakan permintaan dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam menyambut momentum Hari Raya Nyepi, Idulfitri, serta tradisi Lebaran Ketupat.
Untuk menjaga ketersediaan, Pertamina telah menambah pasokan melalui program extra dropping selama Maret. Di Kabupaten Lombok Tengah, tambahan distribusi mencapai 89.600 tabung atau sekitar 13,2 persen dari alokasi bulan Maret. Sementara itu, di Kabupaten Lombok Timur, tambahan pasokan tercatat sebanyak 110.320 tabung atau dengan persentase yang sama.
Selain penambahan pasokan, Pertamina juga memperkuat pengawasan distribusi dengan memprioritaskan penyaluran ke pangkalan dengan tingkat konsumsi tinggi, memastikan penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET), serta melakukan pembinaan kepada mitra penyalur. Koordinasi dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait turut diintensifkan guna menjaga stabilitas distribusi di lapangan.
“Pertamina secara konsisten menyalurkan elpiji subsidi sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah serta melakukan pemantauan berkala agar pasokan tetap tersedia bagi masyarakat,” ujar Ahad. (bul)

