Taliwang (Suara NTB) – Serangan hama tungro terhadap tanaman padi menyebar di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Laporan menyebut sudah ada ratusan hektare tanaman padi petani yang telah terserang virus yang disebarkan oleh hama wereng cokelat tersebut.
Sekretaris Komisi II DPRD KSB, Iwan Irawan Marhalim mengatakan, dirinya telah menerima banyak laporan mengenai serangan hama tungro tersebut. Bahkan dari data yang diterimanya baik dari petani maupun penyuluh, hama itu sudah menjangkit di sejumlah kecamatan. Yakni di Kecamatan Brang Rea, Brang Ene, Taliwang, dan kecamatan Sekongkang. “Paling luas terjangkit di Brang Rea dan Brang Ene,” katanya, Jumat (27/3).
Padi-padi petani yang terserang tungro itu, dikatakan Iwan saat ini sudah banyak yang tidak dapat diselamatkan. Bahkan di Brang Ene, banyak para petani kemudian secara sukarela telah memusnahkan tanamannya karena khawatir serangan hama akan terus meluas. “Banyak kok yang sudah potong padinya meski belum panen. Karena untuk menghentikan tungro itu satu-satunya jalan adalah dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi,” cetusnya.
Ia meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian agar segera turun tangan membantu petani yang terdampak. Politisi PAN ini mengatakan, harus juga ada langkah taktis segera untuk menghentikan penyebaran hama yang sangat membahayakan siklus tanaman padi itu.
“Saat Raker dengan Pak Bupati sebenarnya sudah kami wanti-wanti untuk menyediakan obat-obatan pertanian yang lengkap guna menghalau beragam virus hama padi. Tapi mungkin itu tidak diindahkan oleh Dinas Pertanian sehingga akibatnya petani hari ini merugi,” tandas Iwan.
Terpisah, pihak Dinas Pertanian KSB sendiri membenarkan keberadaan kasus serangan hama tungro tersebut. Kepala Dinas Pertanian KSB melalui Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Syamsul Rizal mengatakan, untuk penanganannya petani telah diarahkan mengeliminasi tanamannya. Selanjutnya untuk membantu petani terdampak saat ini Dinas Pertanian telah megajukan proses klaim asuransinya ke Jasindo.
“Data kami per hari ini benar lebih 100 hektare terdeteksi terserang tungro. Dan saat ini hampir 90 persen petani yang terdampak sudah kita proses klaim asuransinya. Tinggal menunggu tim verifikasi turun lapangan untuk memastikan bahwa benar padi petani gagal panen akibat serangan tungro itu,” kata Rizal.
Ia menyampaikan, kepada para petani yang lahannya yang terserang tungro itu, selain mengarahkan melakukan eliminasi. Ke depan petani tidak lagi disarankan menanam jenis varietas yang sama untuk memutus mata rantai virus.
“Rata-rata yang terkena tungro itu jenis bibitnya Inpari 32 yang kita ketahui memang rentan. Makanya ke depan kita akan siapkan varietas baru mungkin pakai Inpari 49,” urainya seraya mengungkap bibit tanaman padi petani terserang tungro itu merupakan bantuan pusat.
“Yang kebanyakan kena ini bibit bantuan dari pusat yang diterima petani di Brang Rea, Brang Ene dan Taliwang. Nah Seteluk tidak dapat bantuan itu makanya padinya tidak terkena serangan hama,” ungkap Rizal. (bug)

