Mataram (Suara NTB) – Keberadaan Mataram Water Park (MWP) hingga kini belum bisa dimanfaatkan untuk rekreasi. Kolam renang yang berada di Taman Udayana itu,disinyalir tidak memiliki fasilitas sebagai wahana rekreasi masyarakat.
Catatan Suara NTB, kolam ini dibangun sekitar tahun 2008 dengan tujuan sebagai pusat olahraga renang. Akan tetapi, spesifikasi lintasan kolam diduga tidak memenuhi standar nasional, sehingga tidak bisa dimanfaatkan.
Pemerintah Kota Mataram berupaya untuk menghidup kolam renang tersebut dengan menyelenggarakan lomba renang tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di tahun 2019. Akan tetapi, eksistensi MWP tidak begitu diminati masyarakat meskipun berada di lokasi yang cukup strategis di pusat kota.
Pembentukan struktur perangkat daerah baru yakni, Dinas Kepemudaan dan Olahraga pada tahun 2016, diharapkan mampu mengelola MWP secara maksimal. Kala itu, penunjukan H.Amran M. Amin sebagai Kadispora pertama sebenarnya diharapkan mampu memberikan konsep baru dalam pengelolaan MWP. Ekspektasi itu justru tidak terealisasi meskipun terjadi pergantian kepemimpinan di Dispora Kota Mataram.
Estafet kepemimpinan dari H.Amran M.Amin ke Dr. H. Mansur kemudian berlanjut ke H.Soehartono Toemiran tidak mengubah apapun. Mereka hanya fokus pada revitalisasi fisik tanpa memberikan sumbangsih apapun terhadap pemanfaatan kolam renang tersebut.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Mataram, Drs. Lalu Syamsul Adnan dikonfirmasi pada, Senin (30/3) mengakui, Mataram Water Park dimanfaatkan sebagai tempat latihan klub renang di Kota Mataram. Kolam renang yang berada di kompleks Taman Udayana itu, belum bisa dimanfaatkan untuk rekreasi masyarakat. “Iya, masih dimanfaatkan untuk latihan klub renang,” kata Syamsul.
Meskipun demikian, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Mataram memberikan target pendapatan asli daerah atas pengelolaan aset tersebut. Target PAD yang ditetapkan di tahun 2026, relatif kecil sebesar Rp15 juta per tahun. “Target PAD hanya Rp15 juta per tahun,” sebutnya.
Mantan Kepala Dinas Sosial Kota Mataram membeberkan alasan MWP tidak bisa dimanfaatkan sebagai kolam rekreasi masyarakat. Pertama, lintasan kolam dibangun untuk latihan atlet renang. Kedua, kolamnya cukup dalam sehingga tidak cocok untuk rekreasi. Ketiga, tidak ada wahana bermain untuk anak-anak.
Syamsul mencoba berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Mataram, agar mengarahkan siswa-siswi untuk latihan renang ke MWP, sehingga kolam renang itu bisa dimanfaatkan. “Kita coba bekerja sama dengan Dinas Pendidikan supaya mengarahkan siswa-siswi untuk latihan renang kesana,” demikian kata Syamsul. (cem)

