Mataram (Suara NTB) – Harga cabai yang masih tinggi di pasaran, bahkan sempat menembus Rp200 ribu perkilo menjadi momok tahunan dan penyumbang terbesar inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, Rabu, 1 April 2026 menyampaikan, lonjakan harga cabai memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan inflasi pada Maret 2026.
“Betul, harga cabai masih tinggi. Bahkan dari hasil pemantauan, cabai menjadi penyumbang inflasi terbesar saat ini,” ujarnya.
Meski demikian, Wahyudin menyebut kondisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Berdasarkan komunikasi dengan petani, terutama di wilayah NTB bagian timur, masa panen cabai akan segera berlangsung dalam waktu dekat.
“Rata-rata petani akan mulai panen pada bulan April. Jika panen sudah berlangsung, pasokan meningkat sehingga harga diharapkan bisa turun,” jelasnya.
Selain mengandalkan panen petani, upaya pengendalian inflasi juga perlu dilakukan melalui intervensi cepat dari berbagai pihak. Salah satunya dengan mendorong gerakan menanam cabai di tingkat rumah tangga dan sekolah.
“Dengan begitu, kebutuhan konsumsi cabai bisa dipenuhi secara mandiri, sehingga ketergantungan terhadap pasar berkurang,” katanya.
Ia menambahkan, jika gerakan tersebut berjalan optimal, maka pasokan cabai akan lebih terjaga dan harga di pasaran dapat menjadi lebih stabil, bahkan berpotensi menurun.
Berdasarkan data BPS, pada Maret 2026 Provinsi NTB mengalami inflasi secara tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,09 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,39. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Bima sebesar 5,09 persen, sementara inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sumbawa sebesar 3,92 persen.
Kenaikan inflasi ini dipicu oleh meningkatnya harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan 4,13 persen, diikuti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 5,61 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 21,60 persen.
Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m) inflasi NTB pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,81 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,93 persen.
Dengan masih tingginya tekanan harga pada komoditas strategis seperti cabai, pemerintah diharapkan dapat memperkuat langkah pengendalian inflasi, baik melalui peningkatan produksi maupun intervensi pasar, guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. (bul)

