PAPA BALITA, Mendobrak “Dinding Sunyi” Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak

Oleh: Abdul Manan, S.Sos., MH.

Di dunia birokrasi, sebuah inovasi sering kali lahir dari pertemuan antara keahlian teknis dan bimbingan strategis, diantara inovasi tersebut adalah Papa Balita yang mencoba mendobrak dinding sunyi Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak. Dalam panggung pengasuhan anak di Indonesia secara umum, sosok ayah sering kali menjadi “aktor di balik layar” yang figuran. Narasi besar kesehatan publik kita, mulai dari antrean Posyandu hingga kampanye ASI Eksklusif, hampir selalu menempatkan Ibu sebagai pemeran utamanya. Namun, sebuah anomali yang menyegarkan muncul dari ruang Seminar Aktualisasi Latsar CPNS Kabupaten Sumbawa Angkatan III. Sebuah inovasi lahir untuk menggugat status quo tersebut melalui: PAPA BALITA (Platform Ayah Pantau Tumbuh Kembang Balita).

Dari Gagasan Menuju Gerakan

Sebagai seorang profesional di bidang gizi, Adam Ozelan menyadari sebuah paradoks: meskipun program penurunan stunting terus digencarkan, keterlibatan ayah masih berada di “titik hampa”. Selama ini urusan timbang badan, pemberian ASI eksklusif, hingga pemenuhan protein hewani sering kali dianggap sebagai “urusan dapur” yang hanya menjadi beban ibu.

Melalui lensa seorang Nutrisionis, Adam melihat bahwa ketimpangan pertumbuhan (stunting) sering kali berawal dari kurangnya dukungan praktis dan keputusan finansial ayah yang tidak berorientasi pada gizi. Inilah celah yang mencoba ditambal oleh platform digital, merupakan sebuah dialektika antara visi strategis kepemimpinan dan keahlian klinis di lapangan.

Berlatar belakang ahli gizi, menangkap sebuah keganjilan sosiologis: sekeras apa pun Ibu berjuang memberikan asupan bergizi, keberhasilannya sangat bergantung pada “restu” dan dukungan praktis sang Ayah. Di banyak wilayah, Ayah adalah pemegang kendali finansial dan pengambil keputusan tertinggi dalam keluarga. Jika Ayah abai terhadap literasi gizi, maka intervensi stunting hanya akan menyentuh permukaan, tidak sampai ke akar rumah tangga.

PAPA BALITA: Platform Digital, Dampak Sosial

Inovasi PAPA BALITA hadir sebagai jawaban atas belum tersedianya media edukasi gizi digital yang inklusif bagi laki-laki atau Ayah. Melalui platform yang mengintegrasikan ekosistem Google (Forms & Drive), Adam menciptakan sebuah “ruang aman” bagi para ayah untuk memantau tumbuh kembang anaknya tanpa harus merasa canggung.

Platform ini menawarkan tiga pilar perubahan:

  1. Aksesibilitas Informasi: Mengubah literasi gizi yang kaku menjadi konten digital yang mudah dikonsumsi melalui ponsel.
  2. Monitoring Mandiri: Memberikan alat bagi ayah untuk mencatat dan melihat perkembangan berat serta tinggi badan anak secara real-time.
  3. Rekonstruksi Peran: Menggeser paradigma bahwa memantau balita adalah tugas domestik ibu, menjadi tanggung jawab bersama (Parenting Partnership).

Gugatan Terhadap “Ketidaklaziman”

Ketajaman inovasi ini sempat memicu diskusi yang menarik dalam seminar aktualisasi. Penguji, Aan Widhi Atma, ST., MM., menyebut gagasan ini sebagai sesuatu yang “tidak lazim” karena berani membedah peran yang selama ini dianggap mapan. Beliau bahkan melakukan refleksi personal, sebuah momen langka dalam seminar formal, bahwa selama ini para ayah, termasuk dirinya, mungkin kurang berperan aktif dalam pemantauan detail tumbuh kembang anak, bagi para ayah yang selama ini merasa perannya cukup hanya dengan mencari nafkah. Memastikan bahwa keahlian klinis seorang Nutrisionis mampu diterjemahkan menjadi nilai-nilai ASN yang adaptif dan berdampak luas. Inovasi PAPA BALITA bukan sekadar aplikasi pengumpul data, melainkan instrumen edukasi digital yang dirancang untuk menarik minat para ayah agar masuk ke dalam ekosistem kesehatan balita. Kembali penguji, Aan Widhi Atma, ST., MM., megatakan bahwa tantangan utama dalam inovasi ini adalah mengubah peran yang tidak lazim, bahkan merefleksikan bahwa ide ini “menantang” namun berdampak.

Di sisi lain, Mentor dr. Abadi Abdullah memberikan penguatan bahwa peran ayah selama ini memang “senyap” tidak terdengar dari pemberitaan. Dukungan beliau sebagai pimpinan di Puskesmas Plampang menjadi kunci bahwa inovasi ini bukan sekadar syarat kelulusan Latsar, melainkan sebuah solusi konkret atas tantangan transformasi digital di sektor kesehatan.

Pesan bagi ASN Masa Depan

Inovasi PAPA BALITA adalah manifestasi nyata dari nilai Ber-AKHLAK. Ia adalah bentuk Adaptif terhadap teknologi dan Kolaboratif dalam memecahkan masalah stunting. Ditekankan bahwa tugas ASN bukan sekadar menjalankan tupoksi, melainkan menjadi problem solver bagi masyarakat. Implementasi ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan pada ayah balita, ini membuktikan bahwa ketika akses diberikan dan peran dihargai, maka para ayah bersedia untuk melangkah maju. Adaptasi teknologi digital untuk menyelesaikan masalah sosial yang akut adalah bentuk nyata dari ASN yang “Adaptif”. Namun, tantangan sesungguhnya adalah keberlanjutan. Seperti yang ditegaskan dalam seminar tersebut, inovasi ini tidak boleh berhenti saat  Latsar saja,  akan tetapi harus menjadi gerakan massal. 

Kesimpulan: Menuju Generasi Emas

Stunting bukan hanya masalah piring yang kosong, tapi juga masalah peran yang hilang. Dengan hadirnya PAPA BALITA, kita sedang membangun sebuah masa depan di mana setiap anak tumbuh dalam pelukan pengetahuan Ayah dan Ibunya. Inovasi ini adalah langkah kecil untuk sebuah lompatan besar bagi generasi emas Indonesia.