Mataram (suarantb.com) – Gereja Katolik Paroki St. Antonius Padua Ampenan menggelar drama teatrikal Tablo kisah sengsara Yesus, pada Jumat (3/4/2026). Gelaran ini dilaksanakan dalam rangka perayaan Jumat Agung yang merupakan rangkaian dari tri hari suci. Yakni,Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah.
Tablo sendiri merupakan teatrikal atau drama visualisasi kisah sengsara Yesus Kristus yang dipentaskan pada Jumat Agung. Drama ini menggambarkan perjalanan Yesus mulai dari pengadilan, memikul salib, hingga wafat di Golgota.
Pastor Gereja Katolik Paroki St. Antonius Padua Ampenan, Romo Iron Risdianto, S.Pd., menjelaskan, pada Jumat Agung hari ini, Jumat (3/4/2026), semua umat Katolik mengenang peristiwa kesengsaraan Yesus melalui gelaran Tablo.
Sejumlah aktor dari Orang Muda Katolilk (OMK) Gereja Katolik Paroki St. Antonius Padua Ampenan, mendramakan peristiwa Yesus dari memanggul salib sampai kepada Dia harus wafat di salib.
“Hari ini, Gereja Katolik Ampenan melalui Orang Muda Katolik, melaksanakan yang disebut Tablo tadi. Jadi mengisahkan sengsara Tuhan Yesus sampai ke puncak Kalvari, sampai ke Golgota. Dan anak-anak muda kita sangat potensial dalam hal-hal begini dan mereka sungguh menjiwai semua peran yang menjadi bagian dari peran mereka masing-masing,” ujarnya.
Romo Iron menuturkan, perisiwa penyaliban Yesus itu bukan bentuk sebuah kegagalan. Akan tetapi jalan menuju kemuliaan. Dengan demikian, gelaran drama Tablo ini, umat Katolik diharapkan dapat memetik nilai-nilai kemuliaan tersebut.
“Salib itu bukan sebuah kebodohan, tetapi dalam konteks iman Katolik, salib itu selalu merupakan jalan menuju puncak, dan puncak itu yang kita sebut sebagai kemuliaan atau keselamatan,” tuturnya.
Penyelenggaran Tablo di Gereja Katolik Paroki St. Antonius Padua Ampenan berlangsung lancar dan khidmat. Akting para aktor dalam memerankan tokoh dalam drama terasa totalitas dan penuh penghayatan. Sehingga, umat yang turut menyaksikan Tablo juga terbawa suasana.
Ketua Penyelenggara Tablo, Angelina mengatakan bahwa proses penyelenggaraan Tablo tahun ini berlangsung kondusif dan lancar. “Puji Tuhan cukup lancar. Kami untuk dalam pemilihan peran, (aktor) pemeran Yesus sendiri itu dia mengajukan diri sendiri, kami tidak memilihnya. Jadi kalau bisa diartikan untuk proses pemilihan peran itu harus dari hati. Kalau tidak dari hati, itu tidak bisa,” jelasnya.
Angelina menyampaikan bahwa panitia membutuhkan waktu sekitar satu bulan dari proses persiapan hingga penyelenggaraan. “Kami proses persiapannya sedikit ‘sat-set sat-set’ ya, karena biasa orang untuk kisah drama ini biasa berlangsung kayak tiga bulan. Tapi di sini kami karena estimasinya agak sedikit mepet, jadi kami kurang lebih satu bulan kurang untuk proses persiapan Tablo tersebut,” terangnya.
Sementara itu, Elo, salah satu OMK, merasa bangga dapat memerankan tokoh Yesus dalam Tablo tahun ini. Pada gelaran Tablo sebelumnya, ia sangat ingin bermain peran sebagai Yesus. Namun, keinginan itu baru terwujud tahun ini.
“Saya ingin sekali memerankan tokoh Tuhan Yesus, karena Dia adalah tokoh utama dalam hidup saya, Sang Juru Selamat. Dia yang mengantar saya bisa sampai di titik ini. Dia yang selalu ada untuk saya walaupun saya terpuruk ataupun saya dalam senang juga Dia selalu ada untuk saya. Jadi, mungkin ini tak seberapa saya menjadi tokoh-Nya di dalam tablo ini, tapi saya bisa merasakan kisah sengsara dan perjalanan Dia untuk menebus dosa-dosa umat manusia,” tuturnya.
Dalam prosesnya memainkan peran tokoh sentral dalam Tablo itu, Elo terus melatih diri hingga bisa tampil dengan maksimal dan totalitas. “Awalnya saya belum bisa mendasari apa-apa, tapi banyak teman-teman, Om-om, dan sutradara yang membantu saya, yang menekan dan mendorong saya, dan meyakinkan diri saya bahwa saya bisa, dan mensupport saya. Kalau kita yakin, kita bekerja untuk Tuhan, pasti ada jalan,” pungkasnya. (sib)

