Senin, April 6, 2026

BerandaHEADLINERimbun Tanaman Bakau Sugian Jadi Daya Tarik Wisata yang Memukau

Rimbun Tanaman Bakau Sugian Jadi Daya Tarik Wisata yang Memukau

HUTAN bakau di pesisir Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, tidak sekadar berjajar rapat menahan abrasi. Di balik rimbunnya akar-akar yang saling mengait, hal ini menjadi sebuah daya tarik wisata yang Memukau.

SABTU, tanggal 4 April 2026 objek wisata baru di Sugian ini diluncurkan Sekda Kabupaten Lombok Timur H. Muhammad Juaini Taofik. Sekda melihat ada sebuah cermin kehidupan bagi warga Sugian dengan menjadikan lokasi ini sebagai destinasi wisata yang indah.

Menurut Sekda, di balik rimbunnya mangrove, ada kesan sederhana. Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki. Objek wisata itu dinamakan Taman Wisata Alam (TWA) Keramat Suci Ekowisata Mangrove.

Bagi mantan Penjabat Bupati Lotim ini, rimbunnya mangrove mengajarkan kesederhanaan sekaligus pesan mendalam, cinta yang tulus adalah tentang menjaga dan melindungi. Filosofi ini, katanya, menjadi fondasi kokoh membangun rumah tangga yang harmonis dan bebas dari kekerasan. “Cinta yang baik adalah melindungi, bukan memiliki,” tegasnya.

Prinsip yang sama, menurut dia, berlaku dalam menjaga alam. Kesadaran untuk melindungi—bukan sekadar memiliki—adalah kunci keberlanjutan ekosistem. Sebagaimana rumah tangga yang harmonis akan jauh dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) karena landasannya saling menjaga.

Peluncuran ekowisata ini bukan seremonial biasa. Di baliknya, ada kerja panjang kolaborasi antara Pemerintah Desa Sugian, Wahana Visi Indonesia (WVI), dan masyarakat setempat. Sekda Juaini menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada WVI yang telah membuktikan komitmen awal mewujudkan destinasi ini.

“Langkah ini adalah pintu pembuka kolaborasi yang lebih luas. Tujuan akhirnya bukan sekadar merestorasi hutan mangrove, melainkan memastikan denyut ekonomi masyarakat Desa Sugian terus berputar melalui variasi ekonomi yang kuat di wilayah Sambalia,” ujarnya.

Kepala Desa Sugian, Lalu Mustiadi, menambahkan bahwa wilayah desanya sebagian besar merupakan pesisir yang berhadapan langsung dengan Gili Sulat dan Gili Lawang. Selama ini, penataan wisata di kawasan Pantai Gubuk Bedek Keramat Suci Sugian telah mendapatkan pendampingan intensif dari WVI.

“Selain pendampingan dalam program regreen mangrove, kami berharap kolaborasi dengan WVI terus berlanjut untuk mengembangkan potensi lain, seperti tambak masyarakat. Agar Desa Sugian mampu sejajar dengan desa-desa wisata maju lainnya di Lombok Timur,” harap Mustiadi.

Di tengah euforia peluncuran, Sekda menyelipkan pesan yang tak kalah penting. Ia mengingatkan para pengelola agar tidak seperti “anak yang lupa akan induknya” ketika destinasi ini sudah besar nanti.

Ia juga menegaskan pentingnya memisahkan antara manajemen pengelolaan dan hak kepemilikan. “Banyak destinasi yang tumbang karena gagal mengelola dua hal ini,” katanya.

Juaini mengajak semua pihak optimis dan tidak saling menjatuhkan. “Semakin banyak pelaku wisata, maka semakin luas pasar yang kita dapatkan. Ketahanan sebuah destinasi terletak pada kekuatan kolektif, bukan persaingan yang tidak sehat.”

Menurut Sekda, tiga pilar utama yang harus diperhatikan adalah aksesibilitas, komunikasi, dan atraksi. Ia mendorong kreativitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menciptakan atraksi-atraksi menarik yang selalu dinantikan wisatawan, tanpa mengusik kelestarian mangrove.
“Keaktifan Pokdarwis menjadi nyawa dari destinasi ini. Keberadaan pihak lainnya seperti WVI maupun Pemda hanya sebagai pendamping dan pendukung,” tegasnya.

Juaini berharap Desa Sugian akan tumbuh menjadi desa mandiri yang kesejahteraannya sekuat akar mangrove yang menopang bumi pesisirnya.

Perwakilan Wahana Visi Indonesia, Sidiq, menekankan bahwa pengembangan ekowisata ini baru tahap awal dari rencana jangka panjang 5 hingga 10 tahun ke depan.

“Fokus utama kami bukan sekadar menanam, melainkan melakukan restorasi mangrove secara menyeluruh sebagai upaya perlindungan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat,” ujar Sidiq.
Ia menambahkan, dukungan dari pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan organisasi lokal menjadi motor penggerak utama. WVI berkomitmen untuk terus mendorong partisipasi publik yang lebih luas dan mencari dukungan sumber daya yang lebih besar.

Peluncuran tersebut dirangkaikan dengan penyerahan Masterplan Ekonomi Wisata Mangrove dari WVI kepada Kepala Desa Sugian dan penyerahan dokumen Pelatihan Ekowisata kepada Mangku Kadus Alam.

Turut hadir dalam acara ini Kepala Bagian Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Camat, Kapolsek, Danramil, perwakilan WVI, serta tokoh masyarakat dan tokoh pemuda.
Di tepian hutan mangrove yang rimbun itu, sebuah harapan baru tertanam: bahwa melindungi alam dan memberdayakan masyarakat adalah dua sisi dari cinta yang sama.
Pernah Jadi Kawasan Konsèrvasi

Lokasi tempat wisata memukau di Sugian ini pernah menjadi kawasan konservasi laut. Terdapat tak jauh dari lokasi ini ada sebuah Gili. Gili Lawang. Gili ni merupakan salah satu destinasi bahari yang menyimpan keindahan alam bawah laut sekaligus hamparan hutan bakau yang lebat. Pada tahun 2018 lalu, lokasi ini disebut warga paling banyak diguncang gempa. Sehingga warga pernah menamakannya dengan sebutan Gili gempa.

Ekosistem mangrove yang tumbuh subur di sepanjang pesisir gili menjadi ciri khas utama, membedakannya dari gili-gili lain di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meski gempa pernah mengguncang, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan signifikan pada vegetasi bakau atau terumbu karang di sekitar gili. Pemerintah Kecamatan Sambelia bersama tim gabungan masih melakukan pendataan di lapangan untuk memastikan kondisi lingkungan dan keselamatan masyarakat.

Keindahan alam laut dengan latar rimbunan bakau yang hijau tetap menjadi daya tarik utama kawasan ini. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN




VIDEO