Selong (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Distribusi Elpiji bersubsidi 3 kilogram sebagai langkah mengatasi kelangkaan gas melon yang dikeluhkan masyarakat. Setelah terbentuk, Satgas langsung berkolaborasi dengan Pertamina dan mengagendakan operasi pasar di seluruh kecamatan se-Kabupaten Lotim.
“Satgas baru terbentuk kemarin sore (Senin, 6 April 2026). Sekarang, langsung bersama pertamina melakukan operasi pasar di empat kecanatan/lima desa,” terang Ketua Satgas Elpiji Lotim, Muhammad Hairi menjawab Suara NTB usai menggelar operasi Pasar di Desa Pengadangan, Selasa (7/4/2026).
Kegiatan perdana dilaksanakan di empat kecamatan, yakni Pringgasela, Aikmel, Wanasaba, dan Lenek. Dia menjelaskan bahwa operasi pasar akan menjangkau satu desa per kecamatan. “Kita rencanakan gelar operasi ini di semua kecamatan, satu desa satu kecamatan,” ujar Hairi
Rincian penyaluran tabung elpiji 3 kilogram edisi perdana: Kecamatan Lenek (Desa Lenek) sebanyak 360 tabung, Kecamatan Aikmel (Desa Aikmel Utara) 560 tabung, dan Kecamatan Wanasaba (Desa Bebidas) 560 tabung. Total ribuan tabung telah tersalurkan dengan harga sesuai ketentuan di pangkalan.
“Makanya kalau kemudian ada yang bilang langka, mari kita bersama-sama mencari benang kusut penyebab kelangkaan. Di tim pengawasan ada dari kepolisian yang akan menindak jika kami temukan benang kusutnya,” tegas Hairi yang juga Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Lotim ini menambahkan.
Dalam setiap kegiatan operasi pasar, desa yang terpilih sebagai lokasi akan didata langsung oleh kepala desa setempat. Warga yang ingin membeli wajib membawa KTP atau Kartu Keluarga (KK) serta tabung kosong, dengan maksimal pembelian satu tabung per orang.
“Harganya Rp18.000, sesuai harga pangkalan. Tidak melihat kaya-miskin, semua boleh beli. Kepala desa lebih tahu warganya, kita bersama-sama di tempat penjualan,” imbuh Hairi.
Terpisah, Bupati Lotim H. Haerul Warisim menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta tambahan pasokan kepada Pertamina. “Jadi kita dapat tambahan dari hari kemarin, 24.000 tabung. Ini sebenarnya banyak, tetapi kenapa terjadi kelangkaan? Kecurigaan saya pertama adalah panic buying,” ujarnya.
Bupati mengingatkan masyarakat agar tidak panik. “Presiden sudah jelas menyampaikan bahwa harga BBM tidak dinaikkan, harga barang-barang juga tidak dinaikkan. Apa yang harus kita panikkan?” tegasnya.
Menurutnya, kepanikan masyarakat dipicu imbas media sosial dan siaran televisi terkait kejadian di luar negeri. Bupati menegaskan bahwa dirinya memiliki kewenangan untuk menindak pelanggaran distribusi subsidi.
“Jangan menganggap bahwa bupati tidak ada kewenangan. Bupati jelas punya kewenangan terhadap pelanggaran yang dilakukan orang-orang tertentu, apalagi menyangkut subsidi,” pungkasnya.
Dengan adanya operasi pasar ini, diharapkan kelangkaan elpiji subsidi di Lotim segera teratasi dan masyarakat bisa mendapatkan gas melon dengan harga resmi. (rus)

