Rabu, April 8, 2026

BerandaEKONOMIEkspor Kemiri NTB ke Timur Tengah Ikut “Lumpuh” karena Perang

Ekspor Kemiri NTB ke Timur Tengah Ikut “Lumpuh” karena Perang

 

Mataram (Suara NTB) – Dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai merembet hingga ke daerah. Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran membuat aktivitas ekspor komoditas dari Nusa Tenggara Barat terganggu, termasuk usaha kemiri di Lombok Tengah.


Pemilik PT Mujnah Kemiri Lombok, Mujnah, mengungkapkan bahwa saat ini ekspor kemiri masih berjalan ke beberapa negara seperti Jepang dan Arab Saudi. Namun, khusus untuk pasar Timur Tengah, pengiriman praktis terhenti akibat gangguan jalur distribusi.


“Kalau ekspor tetap jalan, Jepang masih berjalan. Pengiriman terakhir ke Jepang itu tanggal 22 Ramadan, tapi lewat jalur tidak normal, dari Jakarta ke Singapura lalu ke Jepang,” ujarnya, Rabu, 8 April 2026.


Menurutnya, perubahan rute pengiriman tersebut diduga dipengaruhi oleh penyesuaian regulasi transportasi laut akibat situasi geopolitik yang tidak stabil. Kondisi ini berbeda dengan pengiriman ke Timur Tengah yang justru terhenti total.


“Untuk Timur Tengah, kami betul-betul terdampak. Harusnya tanggal 18 Ramadan sudah ekspor ke Arab Saudi, tapi sampai sekarang belum bisa berangkat,” jelasnya.


Penundaan ini terjadi karena terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sempat mengalami buka-tutup akibat konflik. Akibatnya, sebanyak 12,5 ton kemiri terpaksa tertahan di gudang menunggu kepastian pengiriman.


Meski demikian, Mujnah memastikan pengiriman tersebut tidak dibatalkan, melainkan hanya ditunda. Apalagi, pihak pembeli di Arab Saudi telah membayarkan uang muka dari total hampir Rp1 miliar nilai pesanan buyer Arab Saudi yang tertunda pengirimannya.


“Bukan batal, hanya penundaan. Sampai kapan, itu tergantung kesepakatan dengan buyer. Kalau perang ini belum jelas kapan selesai, kami akan buat klausul ulang perjanjian,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kondisi ini berdampak besar terhadap aktivitas produksi di dalam negeri. Operasional rumah produksi sementara dihentikan, termasuk pembelian bahan baku dari petani.


“Perang ini sangat mengganggu. Produktivitas terhenti, regulasi macet. Aktivitas di rumah produksi kami istirahatkan sementara. Pembelian dari petani juga ditahan,” ungkapnya.
Dampak tersebut dirasakan oleh sekitar 100 orang yang terlibat dalam rantai usaha, mulai dari petani, pengepul, tenaga produksi hingga pekerja pengemasan di NTB.


Untuk menyiasati kondisi ini, pihaknya mulai merancang strategi dengan mengalihkan pasar ke dalam negeri. Mujnah mengaku akan kembali menggarap pasar domestik seperti Bali dan Jawa.
“Kami sedang merencanakan kembali ke pasar domestik. Karena dulu memang awalnya dari pasar lokal. Kalau ekspor ke Arab tidak bisa, harus ada solusi lain,” ujarnya.


Selain itu, pihaknya juga menjajaki peluang ekspansi ke negara lain seperti Singapura dan China. Upaya ini difasilitasi oleh Bank Indonesia Bali melalui agenda business matching dengan calon pembeli yang akan digelar di Bali pada 14-15 April mendatang. (bul)

 

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN




VIDEO