Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perdagangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke salah satu distributor kedelai pada Kamis 9 April 2026. Langkah ini dilakukan menyusul kenaikan harga kedelai di tingkat pengecer dalam sepekan terakhir.
Dalam sidak tersebut, Dinas Perdagangan menemukan adanya kenaikan harga kedelai di tingkat distributor dari Rp9.800 per kilogram menjadi Rp10.800 per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada distribusi kedelai impor dari Amerika Serikat.
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan sidak dilakukan untuk memastikan stabilitas harga sekaligus menjamin ketersediaan stok di tingkat distributor agar tidak terjadi kelangkaan di pasaran.
“Dari hasil pemantauan dan penjelasan distributor, stok kedelai impor saat ini sekitar 300 ton dan masih dalam kondisi aman. Memang ada kenaikan harga, tetapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya, Kamis 9 April.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai saat ini masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2022, ketika harga di tingkat distributor sempat menembus Rp13.000 per kilogram. Oleh karena itu, pemerintah menilai kondisi saat ini masih dalam batas wajar meskipun tetap perlu diawasi.
Ia menjelaskan, selisih kenaikan harga dari Rp9.800 menjadi Rp10.800 per kilogram berkisar Rp1.000. Sementara di tingkat pasar tradisional, harga kedelai dapat mencapai sekitar Rp13.000 per kilogram karena adanya proses distribusi lanjutan, termasuk pembersihan dan pengemasan ulang oleh pedagang.
“Misalnya agen di Pasar Induk Mandalika mengambil dari distributor, setelah dibersihkan tentu harganya menjadi lebih tinggi. Ini yang memengaruhi harga di tingkat pengecer,” jelasnya.
Nida menambahkan, di Kota Mataram terdapat dua distributor utama kedelai, masing-masing berada di wilayah Cakranegara dan Ampenan. Salah satu distributor terbesar adalah PT Negarasakah Perkasa yang berlokasi di Jalan Rahwana, Kelurahan Cakranegara Timur.
Sementara itu, Manajer Pemasaran PT Negarasakah Perkasa, Andi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai impor telah terjadi sejak Februari 2026. Kenaikan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya biaya logistik, termasuk ongkos transportasi dan bahan bakar minyak.
“Harga kedelai impor dari Amerika Serikat sendiri tidak naik. Kenaikan lebih banyak dipicu oleh biaya distribusi yang meningkat, bukan dari harga di negara asal,” terangnya.
Selain biaya transportasi, lanjutnya, biaya asuransi pengiriman juga mengalami peningkatan karena risiko pelayaran yang semakin tinggi, terutama untuk jalur distribusi yang melewati kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang terdampak konflik.
Meski demikian, Andi memastikan pasokan kedelai untuk wilayah Nusa Tenggara Barat, khususnya Kota Mataram, masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan pasar dalam waktu dekat.
“Stok di gudang kami saat ini sekitar 300 ton dan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.
Dinas Perdagangan Kota Mataram menegaskan akan terus melakukan pemantauan secara berkala terhadap harga dan distribusi bahan pokok, termasuk kedelai, guna menjaga stabilitas pasar serta melindungi daya beli masyarakat. (pan)

