Tanjung (Suara NTB) – Kelompok Tani (Poktan) Pelita, Dusun Lempenge, Desa Rempek, kecamatan Gangga, berhasil membudidayakan padi Gogo. Dari uji coba perdana musim tanam (MT 1) – awal 2026, areal lahan kering petani menghasilkan produksi gabah 6 ton per hektar.
Kepala Dusun Lempenge, Desa Rempek, Fahrur Rozy, S.Sos., Kamis (9/4/2026), mengakui Kelompok Pelita di dusunnya berjasa besar mensukseskan program ketahanan pangan, khususnya pemanfaatan lahan kering. Pada uji coba padi Gogo tahun 2026 ini sendiri, Poktan Pelita tergolong spekulasi melakukan penanaman Padi Gogo untuk pertama kali setelah puluhan tahun varietas ini dikenal di masa lampau.
Rozy menceritakan, Poktan Pelita sebenarnya tidak memiliki kuota bantuan bibit. Mengingat, anggota Poktan belum mengajukan usulan bantuan bibit dan saprodi kepada pemerintah.
“Bibit yang ditanam Anggota Poktan berasal dari kuota petani Desa Segara Katon yang memiliki lahan di Dusun Lempenge. Kami berkolaborasi untuk melakukan uji coba, ternyata hasilnya memuaskan,” ungkap Rozy.
Lebih lanjut dikatakannya, uji coba Padi Gora lahan Kering Dusun Lempenge dilakukan pada areal 4 hektare dari total 57 hektare lahan milik 40-an Anggota Poktan Pelita yang tersedia. Berbekal bantuan bibit dan obat-obatan petani Desa Segara Katon pemilik lahan di Lempenge, bibit ditanam memanfaatkan periode musim hujan akhir tahun 2025 lalu. Hingga pada Rabu (8/4/2026), petani sudah bisa menikmati hasil taninya.
Menurut Rozy, informasi yang ia peroleh menyebut bahwa total produksi setelah melalui proses ubinasi melibatkan Dinas Ketahanan Pangan Lombok Utara, mencatatkan angka 6 ton per hektar. Artinya dadi 4 hektare lahan kering Lempenge, menghasilkan gabah Padi Gogo sebesar 24 ton.
“Budi daya perdana ini pun bisa dikatakan tanpa pupuk, karena memang anggota yang menanam tidak memperoleh alokasi bantuan pupuk,” imbuhnya.
Menyadari hal itu, Kadua Lempenge pun mengajak Pengurus dan Anggota Poktan Pelita untuk lebih serius menatap potensi produksi tahun 2027 mendatang. Dirinya sudah berkoordinasi dengan Pemdes dan PPL Desa setempat, untuk mendorong usulan bantuan bibit dan Saprodi pada musim tanam tadan hujan berikutnya. Menurut informasi PPL, Poktan Pelita disebut 99 persen akan menerima bantuan Padi Gogo untuk tahun depan.
Rozy menegaskan, Poktan Pelita Lempenge antusias mendukung program Ketahanan Pangan pemerintah. Sebelum padi Gogo, Poktan Pelita juga berhasil saat dipercaya menjadi demplot penanaman Bawang Merah program Pengendalian Inflasi tahun 2025 lalu.
Antusiasme petani juga ditunjukkan dengan menambah target budidaya Padi Gogo pada tahun 2027. Kadus bersama Poktan setempat menargetkan areal tanam minimal 10 hektar, atau lebih luas tergantung alokasi bantuan bibit.
Selain itu, masyarakat petani di Dusun Lempenge meminta dukungan kepada pemerintah – daerah dan pusat, agar menyediakan infrastruktur pendukung. Mengingat, akses jalan ke lahan kering pertanian riskan banjir dari debit tinggi air hujan, minimnya outlet sumur bor dan perpipaan menuju areal petani, serta meminta dukungan program cetak sawah baru sebagai daya ungkit akselerasi pertanian setempat.
“Untuk tahun ini sendiri, beberapa petani akan menanam palawija setelah Padi Gogo. Ada juga yang coba-coba menanam padi karena di dekat arealnya terdapat outlet sumur bor.”Meskipun begitu, cost yang dikeluarkan lumayan tinggi. Untuk mengairi 2-3 petak lahan, membutuhkan biaya 55 ribu per jam atau disesuaikan dengan harga solar,” tandasnya. (ari)

