Giri Menang (Suara NTB) – Kegiatan malam bebas kendaraan bermotor atau Car Free Night dan hari bebas kendaraan bermotor atau Car Free Day (CFN-CFD) di Gerung, ibu kota Kabupaten Lombok Barat (Lobar) telah berjalan setahun. Sejak dimulai sekitar bulan April 2025 lalu, dampaknya semakin dirasakan masyarakat. Dari sisi jumlah pelaku UMKM yang awalnya terlibat hanya 30 orang, kini meningkat menjadi 257 orang atau sekitar 800 persen.
Omzet hasil penjualan pun meningkat tajam. Dalam semalam, omzet masing-masing pedagang rata-rata Rp1 juta sampai dengan 1,5 juta rupiah. Jika dikalkulasikan semua pedagang omzetnya bisa mencapai Rp257 juta hingga Rp300 juta rupiah per malam.
Korlap Asosiasi UMKM Lobar, Lalu Puguh Mulawarman mengatakan selama setahun pelaksanaan CFN dan CFD pengaruhnya sangat besar pada perekonomian masyarakat. Keantusiasan warga yang berjualan begitu tinggi. “Saat ini ada 257 pedagang yang berjualan, UMKM yang ada di sini,” terangnya, Sabtu (11/4/206) malam.
Pedagang menjual mainan, kuliner, makanan, aksesoris hingga wahana bermain anak. Ditunjang oleh tingginya antusiasme warga yang berkunjung tiap akhir pekan CFN ini luar biasa, sehingga warga yang ingin berjualan pun kian tinggi. Saat ini saja terdapat 50-60 daftar tunggu pedagang UMKM yang ingin masuk berjualan di sini, karena mereka merasa terbantu dengan adanya keramaian CFN ini. “Omzetnya teman-teman pedagang ini lumayan sehingga mereka senang jualan di sini,” imbuhnya.
Omzet pedagang yang berjualan di CFN dan CFD ini masing-masing ada yang ratusan hingga jutaan rupiah, itu dari pedagang kecil hingga pedagang makanan.
Pedagang kecil, yang menjual pernak pernik mainan anak-anak bisa mendapat Rp150-200 ribu per malam, sedangkan pedagang kuliner makanan omzetnya mencapai di atas Rp1 juta-1,5 juta bahkan ada yang sampai R2 juta. Pedagang dan pengunjung CFN lebih besar dibanding CFD.
Para pedagang yang terlibat pun berasal dari wilayah Lobar, yang paling jauh dari Lingsar dan Gunungsari. Ada juga pedagang dari wilayah luar Lobar, Mereka tidak bisa dilarang berjualan sebab CFN ini bicara pasar. “Tetapi kita utamakan Lobar, terutama dari seputaran Gerung, sehingga pedagang lebih banyak dari Lobar,” ujarnya.
Dibanding diawal-awal CFN diadakan Pemkab sekitar bulan April tahun 2025 lalu, jumlah pedagang dan pengunjung tak sebanyak kali ini. Meskipun Pemkab melepas kegiatan ini untuk dikelola paguyuban, tetapi lebih tertata dan teratur. Terlebih dengan Alun-alun kota dan taman kota, disiapkan fasilitas bermain anak, olahraga dan lainnya. Kawasan ini juga dilengkapi penerangan yang memadai, sehingga pengunjung beramai-ramai datang untuk bermalam Minggu.
Pengunjung tidak saja datang berbelanja, tetapi mereka juga bisa bermain bersama keluarga pada malam akhir pekan. Sehingga pedagang pun sangat terbantu, karena semakin ramai, jualannya mereka pun laku keras. Dan pedagang juga tidak sekadar bisa berjualan, tetapi ada yang mereka kunjungi bersama keluarga untuk menghabiskan waktu akhir pekan. Kegiatan CFN ini sendiri dimulai pukul 17.00 Witasampai pukul 22.00 Wita. Namun, semenjak adanya wahana bermain di alun-alun, sejak sore hari lokasi ini ramai dikunjungi. (her)

