Senin, April 13, 2026

BerandaEKONOMIAkademi Kopi di NTB Gagal Terwujud

Akademi Kopi di NTB Gagal Terwujud

 

Mataram (Suara NTB) – Rencana mewujudkan akademi kopi internasional di Lombok, yang digagas Pemprov NTB melalui Dinas Perdagangan bersama investor asal Korea Selatan batal terealisasi, setelah tidak adanya kepastian kebijakan era pemimpin baru di daerah. Perubahan kebijakan pemerintah daerah menjadi penyebab utama mandeknya proyek strategis ini.
Calon pengelola Akademi Kopi Korea di NTB, Lalu Thoriq, mengungkapkan, proyek ini sebetulnya telah mencapai tahap penandatanganan nota kesepahaman (MoU) para pihak, hingga persiapan lokasi.


“Setelah pergantian gubernur, kita seperti mengulang lagi dari awal. Padahal sebelumnya sudah MoU, bahkan sudah tahap penyiapan lokasi,” ujar eksportir kopi ini, Senin, 13 April 2026.
Awalnya, akademi kopi internasional yang merupakan bagian dari program Global Advance Academy Program (GACP) itu direncanakan menggunakan Gedung NTB Mall, kawasan Islamic Center. Di Lantai III, bahkan gedung yang sama dengan NTB Mall saat itu telah dikonsep, dan tinggal dimanfaatkan untuk memulai kegiatan sekolah akademi kopi.


“Karena ada perubahan kebijakan dari kepala daerah yang baru. Akhirnya batal, kami harus cari lokasi lain, kemungkinan bekerjasama dengan pihak swasta,” jelasnya.


Akademi kopi dimaksud, sebenarnya sudah dirancang menjadi pusat pendidikan dan pelatihan terpadu, mulai dari budidaya kopi, pengolahan, hingga pelatihan barista. Proyek ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia serta memperkuat ekosistem industri kopi di NTB.


Diketahui, PT Cafe Moly International, perusahaan asal Pohang, Korea Selatan, sejak 2023 telah menggagas dua proyek besar di NTB, yakni pengembangan perkebunan kopi robusta di Pulau Lombok dan pembangunan sekolah kopi internasional.


Meski kerja sama dengan pemerintah daerah batal, Thoriq menegaskan bahwa komitmen investor Korea untuk membangun akademi kopi di NTB tidak surut. Saat ini, pihaknya masih terus mencari lokasi alternatif agar proyek tersebut tetap bisa direalisasikan.


“Semangatnya tidak mundur. Partner dari Korea tetap ingin membangun akademi kopi di NTB, hanya saja sekarang kendalanya di lokasi,” katanya.


Selain proyek akademi, pengembangan perkebunan kopi juga tetap berjalan. Saat ini, kerja sama dengan masyarakat di Lombok Utara terus dilakukan dengan skema bagi hasil. Lahan yang disiapkan bahkan mencapai sekitar 400 hektare lebih, dan masih dalam tahap pengembangan.
“Kita kerja sama dengan masyarakat, lahannya milik mereka, kita yang kelola dan biayai. Nanti hasilnya dibagi, termasuk tenaga kerja dari masyarakat setempat,” jelasnya.


Namun demikian, sektor kopi NTB juga tengah menghadapi tantangan lain, yakni terganggunya ekspor akibat tingginya harga bahan baku di dalam negeri. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan bersaing di pasar internasional.


Thoriq menyebutkan, harga kopi robusta di tingkat lokal sempat menembus Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga ekspor yang berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram. Akibatnya, banyak petani lebih memilih menjual ke pasar domestik.


“Sekarang ekspor sementara berhenti. Kita kalah bersaing karena harga lokal lebih tinggi. Partner di Korea akhirnya ambil dari Brazil dan Vietnam karena lebih murah dengan kualitas yang sama,” ungkapnya.


Ia menambahkan, tingginya permintaan dalam negeri serta terbatasnya produksi turut memperparah kondisi tersebut. Ke depan, ekspor baru bisa dilakukan jika pasokan berasal dari kebun sendiri hasil kerja sama yang tengah dikembangkan. (bul)

 

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO