Mataram (Suara NTB) – Kenaikan harga bahan baku plastik yang mencapai hingga hampir 50 persen mulai berdampak luas terhadap harga sejumlah kebutuhan pokok, khususnya produk yang menggunakan kemasan plastik. Kondisi ini dikhawatirkan akan terus menekan pelaku usaha dan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Ketua Forum Komunikasi Sales dan Marketing (FKSM), Hasbi, mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan dirasakan langsung oleh pelaku usaha, baik di sektor retail maupun distributor.
“Kalau di toko, harga plastik itu sudah naik hampir 50 persen. Mulai dari cup, plastik kemasan minuman, hingga berbagai jenis kemasan lainnya. Bahkan kenaikan ini sudah terjadi dari tingkat distributor,” ujar General Manager MGM ini, Senin, 13 April 2026.
Menurut Hasbi, kenaikan harga ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku plastik yang sebagian besar masih bergantung pada impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik global yang dipicu oleh perang AS dan Israel kepada Iran turut memberi dampak pada rantai pasok tersebut.
“Bahan baku plastik itu 40 sampai 60 persen masih bergantung dari negara-negara Arab. Jadi ketika ada konflik atau gangguan, otomatis berpengaruh ke harga,” jelasnya.
Dampaknya, berbagai produk yang menggunakan kemasan plastik mulai mengalami tekanan biaya. Mulai dari minuman kemasan, makanan ringan, hingga kebutuhan rumah tangga berbahan plastik mengalami kenaikan harga secara bertahap.
Hasbi menyebut, untuk produk yang tidak diatur dalam kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET), pelaku usaha relatif lebih fleksibel menyesuaikan harga mengikuti kondisi pasar. Namun, persoalan muncul pada komoditas yang memiliki batasan harga, seperti beras.
“Kalau yang tidak ada HET, otomatis mengikuti harga pasar. Tapi yang jadi masalah itu beras lokal yang ada ketentuan HET. Sementara biaya kemasan naik, pengusaha tidak bisa serta-merta menaikkan harga. Karena sudah ada ketentuan harganya dari pemerintah yang tidak boleh dilanggar,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaku usaha beras lokal kini berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga plastik kemasan. Namun di sisi lain, mereka terikat regulasi harga yang membatasi ruang penyesuaian.
“Pengusaha beras lokal sekarang banyak bertanya. Kalau harga kemasan naik, sementara HET tidak berubah, mereka khawatir akan rugi atau bahkan bermasalah secara aturan jika menaikkan harga. Kalau kebutuhan pokok lain yang tidak diatur HET, sudah otomatis naik harga kalau sudah dikemas lagi menggunakan kemasan plastik,” ungkap Hasbi.
Selain itu, ia juga menyoroti potensi terganggunya pasokan beras dari produsen lokal. Hal ini disebabkan oleh semakin tingginya biaya produksi yang tidak diimbangi dengan fleksibilitas harga jual.
“Kondisi ini bisa berdampak pada pasokan. Kalau pengusaha tidak sanggup menutup biaya, produksi bisa berkurang,” katanya.
Untuk itu, FKSM mendorong pemerintah melalui dinas terkait dan Satgas Pangan untuk segera melakukan kajian dan penyesuaian kebijakan, khususnya terkait HET pada komoditas tertentu.
“Perlu ada penyesuaian, baik itu HET atau regulasi lain. Supaya pelaku usaha tidak dirugikan dan distribusi tetap berjalan lancar,” tegasnya.
Di lapangan, kenaikan harga plastik juga sudah terlihat nyata. Beberapa jenis kemasan bahkan mengalami lonjakan signifikan, seperti wadah plastik yang sebelumnya dijual sekitar Rp1.200 per unit kini mencapai Rp2.000 per unit. Dari produsen plastiknya sendiri, kata Hasbi, sudah memberlakukan kenaikan harga plastik sejak kesulitan mendapatkan bahan baku dari impor. (bul)

