spot_img
Minggu, Februari 15, 2026
spot_img
BerandaBREAKING NEWSMBG, Koperasi Desa, dan Bank NTB Syariah: Gotong Royong Baru untuk Membangun...

MBG, Koperasi Desa, dan Bank NTB Syariah: Gotong Royong Baru untuk Membangun Ekonomi Rakyat NTB

Oleh Riduan Mas’ud

(Dosen FEBI UIN Mataram dan Dewan Pakar HKTI NTB)

DI banyak desa di Nusa Tenggara Barat, perubahan nyata kini bisa dirasakan dari dapur-dapur Program Makan Bergizi Gratis. Ribuan ibu yang sedang hamil, anak-anak sekolah, hingga balita mendapatkan makanan bergizi setiap hari. Namun yang menarik, manfaat program ini ternyata jauh lebih besar dari sekadar pemenuhan gizi. Di balik setiap piring makanan, ada denyut ekonomi baru yang tumbuh di desa-desa NTB.

Program MBG telah menjangkau lebih dari 1,3 juta warga. Angka ini bukan hanya menunjukkan luasnya jangkauan program, tetapi juga menggambarkan bagaimana NTB berhasil membangun sistem sosial yang menyentuh hampir semua kelompok, dari anak usia dini hingga tenaga pendidik. Dampaknya terasa nyata, baik secara kesehatan maupun kesejahteraan.

Di dapur-dapur MBG, kini bekerja lebih dari dua puluh dua ribu warga yang terserap sebagai juru masak, tenaga pengolah ransum, ahli gizi, hingga sopir pengantar makanan. Ini bukan sekadar lapangan kerja baru, melainkan bentuk pemberdayaan masyarakat yang menggerakkan ekonomi lokal. Banyak keluarga mendapatkan tambahan penghasilan, dan banyak desa yang kini hidup dari aktivitas dapur MBG setiap harinya.

Yang lebih menarik, program ini melibatkan ribuan pelaku usaha lokal. Ada petani yang memasok sayuran, nelayan yang menyiapkan ikan segar, UMKM yang menyediakan bahan pangan olahan, hingga koperasi dan BUMDes yang ikut mengatur distribusi. Sebanyak 1.826 pemasok lokal kini terhubung langsung dengan jaringan MBG. Hal ini menciptakan pasar baru yang stabil bagi produk rakyat dan membantu menggerakkan roda ekonomi desa.

Dalam ekosistem ini, Bank NTB Syariah memainkan peran penting. Dengan jaringan tujuh puluh tiga kantor di Lombok, Sumbawa, dan Surabaya, bank daerah ini menjadi penopang pembiayaan bagi UMKM dan koperasi yang terlibat dalam rantai pasok MBG. Akses modal yang lebih mudah dan berbasis syariah membuat pelaku usaha di desa memiliki ruang lebih besar untuk berkembang. Ada petani yang bisa meningkatkan produksi, ada koperasi yang mampu memperbesar volume pengadaan, dan ada UMKM yang bisa membeli peralatan baru untuk memenuhi permintaan.

Peran Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi juga penting dalam memperkuat kelembagaan desa. Melalui program pelatihan dan dukungan koperasi desa merah putih, banyak desa kini semakin siap menjadi bagian dari rantai pasok pangan yang lebih besar dan tertata.

Sinergi antara MBG, koperasi desa, UMKM, dan Bank NTB Syariah telah melahirkan gotong royong baru dalam pembangunan daerah. Program gizi berubah menjadi penggerak ekonomi. Bantuan sosial berubah menjadi peluang kerja. Desa-desa yang dulu terpinggirkan kini bisa ikut menikmati manfaat dari kebijakan publik yang terintegrasi.

Ke depan, tantangannya adalah menjaga agar ekosistem ini tetap hidup dan berkembang. Jika dikelola dengan baik, model NTB ini bisa menjadi contoh nasional tentang bagaimana sebuah program kebutuhan dasar dapat menjadi motor penguatan ekonomi rakyat. Apa yang dimulai dari dapur sederhana kini berpotensi menjadi pondasi masa depan NTB yang lebih sejahtera dan mandiri.

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO