spot_img
Jumat, Januari 30, 2026
spot_img
BerandaBREAKING NEWSProf. Kurniawan Resmi Nomor Urut 2 Calon Rektor Unram 2026–2030, Tekankan Transformasi...

Prof. Kurniawan Resmi Nomor Urut 2 Calon Rektor Unram 2026–2030, Tekankan Transformasi Kampus Harus Selaras Asta Cita, Diktisaintek Berdampak, dan Arah Pembangunan NTB

Mataram (suarantb.com) — Senat Universitas Mataram (Unram) telah menyelenggarakan Rapat Senat Khusus di Ruang Sidang Senat Lantai III Rektorat Unram, pada Senin, 29 Desember 2025,  dengan agenda pengundian nomor urut bagi tiga Calon Rektor Universitas Mataram periode 2026–2030. Berdasarkan hasil pengundian tersebut, Prof. Dr. Kurniawan, S.H., M.Hum., resmi memperoleh Nomor Urut 2.

Prof. Kurniawan menyampaikan bahwa penetapan nomor urut ini menjadi penanda masuknya tahapan konsolidasi gagasan dan adu program yang lebih substantif. Prof. Kurniawan menegaskan komitmennya untuk menjalankan seluruh proses pemilihan secara elegan, akademik, dan bertumpu pada program yang terukur.

Menurutnya, Universitas Mataram harus diposisikan sebagai institusi yang tidak hanya unggul di indikator akademik, tetapi juga relevan sebagai mesin solusi bagi tantangan pembangunan daerah dan nasional.

“Unram harus bergerak dalam satu garis besar pembangunan. Kita tidak boleh menyusun agenda kampus yang terpisah dari kebutuhan bangsa dan daerah. Visi saya sederhana: unggul yang berkelanjutan, berdampak yang terasa, dan mendunia yang dibangun dengan tata kelola yang sehat serta kolaborasi yang produktif,” ujar Prof. Kurniawan.

Kurniawan menambahkan bahwa rancangan transformasi Unram 2026–2030 yang ditawarkannya bersama timnya disusun dengan kerangka yang secara substansi sejalan dengan agenda pembangunan nasional pemerintahan Prabowo–Gibran melalui Asta Cita, searah dengan orientasi “Diktisaintek Berdampak” Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang menempatkan kampus sebagai simpul peningkatan produktivitas dan inovasi, serta linear dengan prioritas pembangunan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat 2025–2029 yang menekankan pengentasan kemiskinan ekstrem, penguatan ketahanan pangan, peningkatan kualitas layanan dasar, dan pengembangan pariwisata berkualitas.

Keselarasan tersebut diterjemahkan ke dalam agenda kerja yang menempatkan pembelajaran sebagai pabrik kompetensi yang adaptif dan relevan, riset sebagai pengungkit hilirisasi dan daya saing daerah, pengabdian sebagai program berbasis dampak yang terukur di desa dan komunitas, serta tata kelola yang modern dan akuntabel sebagai fondasi menuju kampus yang lebih mandiri.

Prof. Kurniawan juga menekankan penguatan tema-tema strategis yang berbasis keunggulan NTB, termasuk ekonomi biru dan pesisir, ketahanan pangan dan agro-maritim, pariwisata dan ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan energi terbarukan, serta penguatan kesehatan kepulauan, sebagai cara paling efektif agar Unram hadir menjawab persoalan riil masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Senator Perwakilan Guru Besar Fakultas Hukum, Prof. Djumardin, menegaskan pemahaman publik bahwa tahapan putaran akhir pemilihan rektor—yakni pemungutan suara bersama unsur kementerian—tidak ditentukan secara otomatis oleh hasil penjaringan sebelumnya. Putaran akhir merupakan arena pengambilan keputusan yang berangkat dari nol, karena konfigurasi dukungan dapat berubah seiring para anggota senat menimbang kembali pilihan mereka berdasarkan kematangan program, kesiapan eksekusi, serta kemampuan membangun kolaborasi strategis.

Dalam dinamika tersebut, kandidat yang meraih suara terbanyak pada penjaringan tentu memiliki modal awal yang kuat dan sangat berpeluang menang, namun kandidat peraih suara terbanyak kedua juga sama sekali belum tentu kalah, dan kandidat dengan suara terendah pun tetap dapat menjadi kejutan—“menyalip di tikungan”—ketika preferensi pemilih bergerak mengikuti argumentasi dan lompatan konsolidasi dukungan.

Senator perwakilan guru besar Fakultas Hukum itu menyampaikan bahwa pendekatan Prof. Kurniawan menempatkan Unram sebagai mitra strategis pemerintah, industri, komunitas, dan media. “Yang kami dorong bukan sekadar kemenangan elektoral, tetapi kepemimpinan universitas yang menyambungkan Unram dengan agenda pembangunan. Kami siap membuka ruang dialog programatik kepada para senator dan seluruh pemangku kepentingan, karena kami memahami betul dinamika pemilih masih bergerak dan keputusan akhir akan ditentukan oleh kualitas gagasan serta kemampuan merajut dukungan,” ujarnya.

Djumardin mengajak seluruh pihak menjaga iklim demokrasi kampus yang bermartabat, memastikan proses berjalan sesuai tata tertib, dan menjadikan Pilrek sebagai momentum untuk memperkuat persatuan sivitas akademika, meningkatkan kinerja institusi, serta mempertegas kontribusi Unram bagi NTB dan Indonesia. (r)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO