Selong (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur (Lotim) mengapresiasi langkah warga Aik Beta Desa Prigi Kecamatan Suela yang membangun jembatan darurat menggunakan bambu secara swadaya. Dengan adanya jembatan darurat tersebut, 150 Kepala Keluarga (KK) warga yang sebelumnya terisolir bisa beraktivitas seperti biasa.
Kepala Pelaksana BPBD Lotim, Lalu Mulyadi ketika dikonfirmasi, Senin, 29 Desember mengutarakan saat ini Pemkab Lotim masih menunggu datangnya Jembatan Bailey yang akan didatangkan Pemprov NTB melalui Pangdam IX Udayana di Denpasar. Warga Desa Prigi diakui butuh akses cepat, sehingga sangat disyukuri juga sebelum datangnya jembatan ada jembatan darurat yang dibangun swadaya masyarakat.
Kondisi bencana hidrometrologi saat ini tidak bisa diprediksi, Intensitas hujam masih cukup tinggi, sehingga diperlukan segera adanya akses bagi warga agar bisa lebih mudah beraktivitas. “Bencana banjir ini masih akan sering terjadi,” ungkapnya.
Soal progres jembatan bailey, sesuai informasi dari BPBD Provinsi juga masih proses memenuhi syarat dan prosedur mendatangkan bahan baku jembatan. “Bagaimana prosesnya itu Pemprov melalui BPBD Provinsi, jawaban sementara masih dalam proses,” tuturnya.
Pemasangan jembatan bailey ini butuh waktu tidak lama, Atau sekitar dua pekan sudah bisa terpasang dan bisa digunakan langsung oleh warga. BPBD Lotim tetap berusaha untuk komunikasikan dengan BPBD Provinsi. “Karena bukan kita, kita hanya bisa berharap dan menunggu segera datang,” sebutnya.
Dikutip dari wikipedia, Jembatan Bailey ini adalah jembatan rangka baja pra-fabrikasi yang bersifat portabel. Jembatan tipe ini dikembangkan pada periode 1940–1941 oleh militer Inggris selama Perang Dunia II dan digunakan oleh satuan teknisi militer Inggris, Kanada dan Amerika Serikat. Nama jembatan jenis ini diambil dari Donald Bailey, seorang pegawai negeri di Jawatan Perang Inggris yang mengajukan purwarupa jembatan Bailey pertama kali.
Kayu dan baja yang digunakan sebagai jembatan terdiri dari bagian-bagian kecil sehingga cukup dibawa dengan truk dan dirakit dengan tangan tanpa menggunakan katrol. Jembatan jenis ini cukup kuat untuk dilewati oleh tank. Jembatan Bailey kemudian digunakan dalam proyek konstruksi untuk penggunaan yang bersifat sementara.
Menurut Lalu Mulyadi, jembatan yang bisa bongkar pasang itu memiliki kapasitas 6-7 ton. Diminta nantinya setelah rampung terpasang tidak dilewati oleh kendaraan dengan kapasitas lebih besar dari itu.
Kepala Desa Prigi, Darmawan ketika dikonfirmasi terpisah mengutarakan warga membangun jembatan darurat karena lama menunggu. Jembatan bambu tersebut dibangun secara swadaya dengan urun biaya dari warga sekitar.
Hasil komunikasi dengan pihak TNI, Kades Prigi ini mengaku sudah diminta mencarikan tempat penginapan tukang dan tim dari TNI yang akan memasang jembatan tersebut. “Alhamdulillah, kita sudah diminta mencari tempat penginapan karena dalam waktu depat tim dari TNI akan melakukan pemasangan jembatan bailey tersebut,” demikian Darmawan. (rus)


