Giri Menang (Suara NTB) – Tahun pertama kepemimpinan Bupati Kabupaten Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini bersama Wakil Bupati Hj. Nurul Adha mencatatkan prestasi membanggakan. Diantaranya penurunan angka kemiskinan hingga melampaui target pada dokumen rencana pembangunan dan jangka menengah. Sementara, di sektor pertanian swasembada padi. Keberhasilan penurunan kemiskinan dan swasembada ini, tak lepas dari program yang dilaksanakan selama hampir 11 bulan memimpin tanah patut, patuh, pacu ini.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan tahun ini menurun hingga 4.000 jiwa lebih atau 0,75 persen. Dari angka 11,9 Persen 92.000 jiwa tahun lalu, bisa diturunkan menjadi 12,65 persen atau sekitar 96.570 jiwa tahun ini. Pencapaian penurunan kemiskinan ini melampaui target RPJMD. Selain persentase, penurunan jumlah penduduk miskin juga menunjukkan progres signifikan. Dari 96.000 jiwa pada 2024, kini turun menjadi 92.000 jiwa, atau berkurang sekitar 4.000 orang.
Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) menyampaikan bahwa penurunan kemiskinan ini berkat sistem kerja yang dibangun secara kolaboratif. “Saya dapat data dari BPS bahwa terjadi penurunan kemiskinan dalam waktu yang singkat, tentu ini kan kerja semua pihak karena kita kerja kolaboratif,”terang LAZ, ditemui di kantornya, Selasa 30 Desember.
Dalam upaya pengentasan kemiskinan ini, pihaknya mengacu data. Data kemiskinan pada desil 1 dan 2 diverifikasi dan validasi lebih dulu sebagai acuan.
Saat ini progres Verval telah mencapai 78 persen, ditarget pada tanggal 31 Januari verval ini sudah final. Mengacu data ini nanti akan dibuat menjadi Lobar Satu Data.
Sehingga seluruh masyarakat Lobar, begitu NIK-nya muncul menggunakan satu kartu. Semua anggota keluarga akan tampak (terekam) dan jenis bantuannya dalam kartu ini. Sehingga kartu ini dipergunakan oleh warga untuk semuanya jenis bantuan. Umpamanya ada warga tak mampu, masuk data miskin punya tiga anak, baru sekokah SD dan SMP. Apa hak-hak bantuan yang diperoleh anak-anak ini akan terekam dalam kartu.
“Sehingga kalau mau pergi berobat, tinggal klik kartu itu, datanya masuk. Nama kartunya “sejahtera dari desa”. Semua bantuan terakumulasi disini, ini cita-cita saya,”tegasnya. Termasuk, program Baznas yang mau masuk menangani warga Miskin akan berbasis pada data tersebut. Contohnya, diintervensi dari sisi ekonomi. Nantinya akan dievaluasi, sejauh mana dampak program ini. Apakah warga ini berhasil keluar dari kemiskinan atau tidak.
LAZ menargetkan secepatnya kartu itu bisa direalisasikan. Pihaknya pun berkerja keras menyusun bagimana kebijakan ini bisa dilaksanakan tahun depan. Diakui LAZ tantangan berat untuk mensinergikan semua OPD dalam satu Big Data. Namun, ia akan berjuang merealisasikan itu. Sebab ini menjadi satu model di Indonesia mengintegrasikan semua kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam satu kartu. Terlebih tantangan beratnya juga penanganan kemiskinan ekstrem. Kata LAZ, tiap tahun anggaran untuk penanganan kemiskinan ini besar. Tetapi akumulasi dari data BPS, penurunan kemiskinan tidak sampai satu persen mampu diturunkan. “Kan ada sesuatu gitu, saya anggap big datanya yang salah. Contoh, Baznas berikan bantuan belum tentu yang memang masuk desil 1 dan 2 yang mendapatkan bantuan. Ini yang tidak boleh keluar dari pakem itu,”tegasnya. Sehingga melalui data yang telah disusun, ia yakin semua kemiskinan akan tersentuh. Termasuk dari program CSR perusahaan, harus mengacu pada big data ini.
Menurut LAZ tidak perlu banyak strategi dalam penanganan kemiskinan, tetapi kemauan bekerja. “Tidak perlu terlalu banyak strategi. Yang paling penting adalah kemauan untuk bekerja dan menjalankan program secara optimal,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa misi pembangunan daerah harus tercermin dalam capaian nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama pada sektor pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan.
Empat indikator utama yang harus menjadi fokus dan pegangan bagi seluruh perangkat daerah, yaitu: tidak boleh ada masyarakat yang putus sekolah, tersedianya dan meluasnya lapangan kerja, meningkatnya usia harapan hidup (UHH) serta bertambahnya tingkat melek aksara masyarakat. “Empat indikator ini adalah fondasi penting dalam mewujudkan Lombok Barat yang maju, mandiri, dan berkeadilan,” ujarnya.
Bupati LAZ mendorong setiap ASN agar mempunyai target yang jelas dalam bekerja. “Kalau target selalu terlihat, kita akan lebih fokus dan terpacu untuk mencapainya,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Lombok Barat, Deny Arif Nugroho menambahkan pencapaian ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah daerah dalam mengawal indikator ekonomi mikro. Ia menyebut penurunan kemiskinan sebesar 0,75 persen dibanding tahun 2024 bukan sekadar angka, tetapi cerminan keberhasilan program yang menyentuh masyarakat.“Itu memang tugas dan tanggung jawab kami,” kata Denny.
Deny menyampaikan pemerintah telah menyiapkan empat langkah strategis untuk mendorong penurunan kemiskinan secara lebih agresif. Antara lain, pengurangan kantong-kantong kemiskinan melalui intervensi langsung dan program terarah.
Selanjutnya, pengurangan beban pendapatan rumah tangga, seperti bantuan UMKM dan program perlindungan sosial. Penguatan desa wisata dan sektor ekonomi kreatif, guna mendorong pendapatan masyarakat di akar rumput.
Penggiatan ekonomi produktif, termasuk pembinaan usaha kecil serta diversifikasi kegiatan ekonomi masyarakat.Pemerintah menargetkan bahwa pada 2029, angka kemiskinan Lombok Barat harus berada di bawah 10 persen, sesuai target nasional. Untuk tahun depan, target penurunan dipasang pada angka 11,4 persen. Denny juga menyoroti pentingnya validasi data melalui Sistem Ekonomi Nasional (SEN).
Ia menjelaskan proses verifikasi data ditargetkan tuntas pada akhir awal tahun depan.“Validasi ini penting agar bantuan tepat sasaran dan strategi penanganan lebih efektif,” ujarnya.
Pemkab Lombok Barat optimistis mampu menjaga tren positif penurunan kemiskinan sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Sementara itu, di sektor pertanian Pemkab Lobar berhasil mewujudkan swasembada hasil panen padi dan Nilai Tukar Petani (NTP) juga meningkat.
Kepala Dinas Pertanian Damayanti Widyaningrum mengatakan bahwa produksi padi tahun 2025 meningkat 9,87 persen. Di tahun 2024 produksi padi mencapai 148.036 ton. “Tahun 2025 ini berdasarkan angka sementara BPS yaitu sebesar 162.653 ton. Artinya, terjadi peningkatan sebesar 14.617 atau kurang lebih 9,87 persen,”kata Damayanti.
Selain itu, dari luas areal tanam juga meningkat, dari tahun 2024 seluas 24.860 hektar tahun ini berdasarkan angka sementara BPS mencapai 25.361 hektar. “Terjadi penambahan sekitar 501 hektar, atau 2,02 persen,”terangnya.
Penambahan luas panen ini terjadi karena program optimasi lahan. Secara otomatis dengan luas tanam meningkat, tentunya hasil produksi panen pun meningkat. “Alhamdulillah kita surplus (swasembada) tahun 2025 ini, padhal belum satu tahun kepemimpinan Bapak Bupati dan ibu Wabup, sudah kelihatan hasil kerja nyata di Lobar, khusus di sektor pertanian,”terangnya. ]
Dengan meningkatnya hasil produksi padi, berpengaruh positif terhadap NTP. Dimana dari data sementara BPS, pada periode yang sama di bulan November tahun 2024 NTP mencapai 122,31 terjadi kenaikan pada tahun ini menjadi 125,38. “Ini hasil data sementara dari BPS, terjadi peningkatan NTP 3,07. Jadi ada peningkatan 2,5 persen”sebutnya. Ini menjadi bukti nyata bahwa Pemkab Lobar, belum setahun menjabat, bisa menunjukkan hasil nyata untuk kesejahteraan petani dibuktikan dengan NTP yang meningkat. Sebab semakin tinggi NTP, artinya kesejahteraan petani meningkat.
Selain itu, capaian peningkatan sektor pertanian ini dipengaruhi oleh program diantaranya penurunan harga pupuk, bibit berlabel, bantuan obat-obatan, bantuan alat dan mesin atau alsintan pra serta pasca panen dari dinas. “Pengaruhnya sangat besar sekali pada peningkatan NTP petani,”ujarnya.Ia menambahkan, tahun depan ditargetkan peningkatan hasil pertanian, melalui berbagai inovasi yang akan lebih ditingkatkan lagi maupun inovasi baru lainnya. Terlebih ada program dari pusat, yakni optimasi lahan, irigasi perpompaan, menanam pagi di tegakan dan tanaman perkebunan. (her)


