spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaBIMASolidaritas Orang Bima Tak Lekang di Perantauan, Falsafah Leluhur Jadi Perekat

Solidaritas Orang Bima Tak Lekang di Perantauan, Falsafah Leluhur Jadi Perekat

Bima (suarantb.com) – Solidaritas masyarakat Bima dikenal kuat dan kerap menonjol ketika mereka berada di perantauan. Di berbagai daerah perantauan, orang Bima hampir selalu saling mencari, saling mengenali, dan dengan cepat memosisikan diri sebagai keluarga. Ikatan tersebut tidak hadir secara tiba-tiba, melainkan tumbuh dari falsafah hidup yang diwariskan leluhur sejak lama.

Budayawan Bima, Husain Laodet, menyebut orang Bima sebagai masyarakat yang unik. Keunikan itu, menurutnya, paling terasa ketika mereka berada jauh dari tanah kelahiran. Begitu mendengar logat atau bahasa Bima, sekat-sekat sosial langsung runtuh.

“Orang Bima itu unik. Di perantauan, begitu bertemu sesama Bima, tidak ada lagi tanya siapa dia, tinggal di mana atau dari keluarga apa. Semua langsung dianggap keluarga. Bahkan sering langsung bilang, ‘ayo mampir rumah’,” ujarnya ditemui Suara NTB pada Kamis, 8 Januari 2026.

Karakter solidaritas tersebut berakar kuat pada falsafah hidup orang Bima yang telah ditanamkan sejak dulu oleh para leluhur. Nilai-nilai seperti Maja Labo Dahu (malu dan takut berbuat salah), Ede Ra Ndai Sura Dou Labo Dana (mengutamakan kemanusiaan dan tanah kelahiran), hingga Su’u Sa Wau, Sia Sa Wale (menjunjung tinggi amanah dan melaksanakannya sekuat tenaga dan pikiran), membentuk cara pandang hidup masyarakat Bima sejak lama.

“Orang Bima hidup berdampingan dengan falsafah-falsafah itu. Nilai tersebut tidak diajarkan secara formal, tetapi tumbuh bersama kehidupan sehari-hari dan itu mengalir dalam nadi kehidupan orang Bima” katanya.

Menurut Husain, kekuatan utama orang Bima terletak pada karakter yang dibentuk oleh nilai-nilai leluhur tersebut. Di mana pun mereka berada, identitas sebagai orang Bima selalu menjadi titik temu.

“Satu kalimat yang merangkum itu semua: kekeluargaan dan persaudaraan orang Bima kuat karena karakter yang dibentuk oleh falsafah hidup leluhurnya,” tuturnya.

Dari sisi budaya dan arsitektur tradisional, rumah panggung khas Bima juga turut memperkuat ikatan sosial. Kolong rumah berfungsi sebagai ruang bersama, tempat warga berinteraksi, berbagi, dan membangun empati sosial.

“Di kolong rumah itulah sirkulasi sosial terjadi. Orang tidak takut hidup, meski hari ini tidak punya apa-apa. Tetangga saling berbagi, spontan tanpa aturan. Punya ikan ditukar sayur, begitu seterusnya dan sebaliknya,” ucap Husain.

Pola hidup tersebut lanjutnya, terbawa hingga ke perantauan. Di mana pun orang Bima berada, budaya saling menopang tetap hidup bahkan tidak hanya terbatas pada sesama masyarakat Bima, tetapi juga meluas kepada masyarakat non-Bima.

Namun demikian, Husain menilai ada fenomena menarik ketika orang Bima kembali ke daerah asal. Ikatan emosional yang begitu kuat di rantau justru kerap terasa memudar di kampung halaman.

“Di Bima sendiri, kadang sesama orang Bima yang pernah satu perantauan malah seperti orang biasa saja sekadar saling sapa. Itu karena ikatan emosional di rantau terbentuk oleh situasi bertahan hidup bersama,” jelasnya.

Ia mengakui, modernisasi dan perkembangan teknologi perlahan menggerus sebagian nilai-nilai tersebut, terutama di kalangan generasi muda. Namun, esensinya masih tetap bertahan.

“Kalau dipresentasekan, mungkin 30 persen nilai itu terkikis karena gaya hidup individualis. Silaturahmi fisik berkurang, tapi rasa kekeluargaan tetap ada,” kata Husain.

Ia berpesan agar generasi muda Bima tetap menjadikan falsafah leluhur sebagai cermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau falsafah itu dijaga, persaudaraan orang Bima tidak akan pernah hilang,” tutupnya. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO