spot_img
Jumat, Januari 30, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMBPBD Mataram Imbau Nelayan Waspada Cuaca Ekstrem Awal Tahun

BPBD Mataram Imbau Nelayan Waspada Cuaca Ekstrem Awal Tahun

Mataram (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, khususnya para nelayan, agar meningkatkan kewaspadaan saat melaut. Imbauan ini menyusul potensi cuaca ekstrem dan fenomena gelombang pasang yang diprakirakan mulai terjadi pada Januari dan mencapai puncaknya pada Februari hingga Maret 2026.

Imbauan tersebut merujuk pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Zainuddin Abdul Majid (ZAM). BMKG memprediksi adanya pengaruh siklon tropis yang berpotensi melanda hampir seluruh wilayah perairan NTB, termasuk kawasan pesisir Ampenan dan Sekarbela di Kota Mataram.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzaki, mengatakan pihaknya terus mengingatkan warga pesisir untuk mewaspadai perubahan karakter cuaca laut yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

“Kami kembali mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, agar tetap waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem. Karakter cuaca laut bisa berubah kapan saja dan perlu diantisipasi,” ujarnya, Minggu, 11 Januari 2026.

Muzaki yang akrab disapa Jack menegaskan, BPBD tidak melarang nelayan untuk melaut. Namun, ia meminta para nelayan agar selalu memperhatikan informasi prakiraan cuaca sebelum beraktivitas di laut, meskipun mereka dinilai telah memahami karakteristik perairan setempat.

Berdasarkan data yang dihimpun BPBD, wilayah perairan Ampenan diprediksi mengalami gelombang laut dengan ketinggian antara 0,5 hingga 1,25 meter. Sementara itu, wilayah pesisir selatan NTB berpotensi menghadapi gelombang yang lebih tinggi, yakni berkisar 1,25 hingga 2,5 meter.

“Kondisi ini juga berpotensi diperparah oleh hujan yang disertai angin kencang secara tiba-tiba. Dampaknya bisa berasal dari kondisi cuaca di kabupaten sekitar Kota Mataram,” jelasnya.

Selain ancaman gelombang tinggi, fenomena banjir rob di sejumlah kawasan pesisir juga menjadi perhatian serius BPBD. Beberapa wilayah seperti Bintaro, Pondok Perasi, Kampung Bugis, hingga Mapak dilaporkan mengalami arus rob yang semakin deras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Fenomena ini dipicu oleh abrasi pantai yang terus terjadi serta pengaruh siklon tropis yang berembus dari Samudera Hindia di bagian selatan,” ungkap Jack.

Menghadapi puncak ancaman bencana hidrometeorologi basah tersebut, Pemerintah Kota Mataram telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Tim Desa Tangguh Bencana (Destana) di delapan kelurahan pesisir telah diaktifkan untuk memantau perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut sejalan dengan instruksi Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, yang meminta seluruh jajaran camat, lurah, dan kepala lingkungan melakukan pemantauan ekstra di wilayah masing-masing.

“Seluruh posko bencana di tingkat kelurahan dan kecamatan harus aktif dan siaga, sebagai upaya antisipasi sekaligus untuk meminimalkan risiko dan dampak bencana,” pungkasnya. (pan)

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO