spot_img
Senin, Januari 26, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEWilayah Sekotong Dilanda Banjir, Gubernur NTB Ingatkan Penanganan Jangka Panjang

Wilayah Sekotong Dilanda Banjir, Gubernur NTB Ingatkan Penanganan Jangka Panjang

Giri Menang (suarantb.com) – Wilayah Sekotong Lombok Barat kembali diterjang bencana banjir Bandang, Selasa (13/1/2026) malam. Dua desa dilaporkan terdampak bencana yakni Desa Persiapan Pengantap dan Desa Sekotong Tengah. Diperkirakan ribuan warga terdampak, satu rumah hanyut.

Banjir terparah terjadi di empat dusun di Desa Persiapan Pengantap. Sebanyak 570 KK dengan perkiraan 1.711 jiwa penduduk terdampak banjir di empat dusun ini. Warga terdampak masih mengungsi, karena ketinggian air hingga hampir satu meter. Mereka membutuhkan bantuan logistik, mengingat rumah mereka beserta isinya terendam banjir.

Pj Kades Persiapan Pengantap Saidi mengatakan banjir menerjang sekira pukul 19.00 Wita, ketika itu Warga baru menunaikan ibadah Salat Magrib. “Banjir sekitar pukul 19.00 Wita, di empat dusun, yakni Dusun Kebeng, Bengkang, Sap Baru, dan Pengantap,” sebut Saidi.

Penduduk terdampak di Dusun Kebeng sebanyak 85 KK dengan 330 jiwa. Bengkang 230 KK dengan 659 jiwa. Dusun Sap Baru, warga terdampak sebanyaknya 150 KK dengan 459 jiwa dan dusun Pengantap, 100 KK dengan kisaran 300 jiwa.

Penyebab Banjir terang Saidi, dipicu hujan lebat dan air sungai meluap. Penanganan langsung dilakukan oleh Tagana dan perangkat desa. Selain itu, satu warga dinyatakan meninggal dunia diduga terseret banjir. Korban diketahui bernama Nurinah (69), seorang lanjut usia (lansia) di Dusun Desa Persiapan Blongas. Banjir bandang juga menghanyutkan rumah dan ternak milik warga.

Bencana banjir yang kerap melanda wilayah Sekotong, menjadi perhatian serius Pemprov NTB dan Pemkab Lobar. Dalam hal ini Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal bersama Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini langsung turun ke lokasi terdampak banjir, Rabu (14/1).

Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal saat turun ke lokasi bencana banjir di Dusun Bengkang Desa Persiapan Pengantap, Rabu (14/1/2026), mengatakan mau tidak mau penanganan jangka panjang harus dilakukan pihaknya bersama Pemkab Lobar.

“Penanganan jangka menengah dan panjang nanti mau tidak mau harus kita lakukan, kita harus perbaiki bukit-bukit yang sudah gundul ini, enggak bisa enggak, kita harus,” tegas Gubenur.

Penanganan jangka panjang ini menjadi keniscayaan, sebab mau bagaimana pun menangani bencana ini jika tidak menyentuh pada akar persoalannya akan tetap kembali kondisinya seperti ini. Termasuk aspirasi warga agar meninggikan tanggul penahan air sungai, menurutnya tidak cukup dengan itu saja. Karena letak persoalannya yakni pada kawasan pegunungan harus diselsaikan terlebih dahulu.

Karena, kata dia, sedimentasi sungai ini terjadi karena sudah tidak ada lagi penahan atau catchment area di bukit-bukit yang ada di daerah sekitar. Gubernur pun minta pada semua kepala desa agar jangan lagi mengeluarkan rekomendasi penggunaan kawasan untuk pembangunan.

“Harus cek dulu rekomendasi itu dampaknya terhadap lingkungan, tidak boleh sembarangan lagi mengeluarkan rekom-rekom (rekomendasi),” tegasnya.

Pasalnya, dulu banyak rekomendasi yang dikeluarkan dan kemudian menjadi dasar pembuatan sertifikat-sertifikat.

Hal senada disampaikan Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini, dalam hal penanganan bencana jangka menengah dan panjang di wilayah ini, hal pertama yang perlu dilihat adalah ada ekosistem yang tidak jalan. Terjadi penggundulan hutan dan lain sebagainya. Sehingga yang terjadi ruang sedimentasinya jauh lebih tinggi, sehingga semua saluran tertutup.

“Harapan kami, karena ini kerusakan ekosistem, maka ini harus kita cegah. Ya jangka panjangnya kita harus tata lagi. Karena hujan sedikit saja di wilayah Sekotong ini pasti ada banjir. Ini menandakan alam ini sudah tidak mampu lagi,” tegasnya.

Namun dalam hal penanganan jangka panjang ini tidak bisa hanya dari pemerintah. Namun perlu partisipasi masyarakat harus secara bersama-sama terlibat. Karena hal ini, kata dia, menyangkut ekosistem yang perlu dijaga dari aktivitas penebangan hutan dan perusakan hutan.

“Butuh partisipasi kita bersama. Alam ini enggak bisa diserahkan semuanya ke pemerintah, masyarakat juga punya kepentingan. Daya bantu pemerintah kan terbatas,”imbuhnya.

Kepala Dusun Bengkang, H. Zohdi Akbar mengakui di dusun itu penduduknya mayoritas petani jagung. “Akhirnya ditebang di gunung-gunung. Kalau jumlah hektarenya kurang tahu, intinya banyak sudah. Itu sangat perlu penanaman kembali, penghijauan,” imbuhnya.

Selain itu ia berharap agar tanggul sungai kiri kanan ditinggikan. Sungai itu sendiri sudah diberonjong, namun perlu ditanggul lagi dan pengerukan sedimentasi. Karena air sungai mudah meluap akibat pendangkalan dan beronjong saat ini. (her)

 

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO