Sumbawa Besar (suarantb.com) – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) stasiun Meterologi kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin tetap mengimbau masyarakat untuk waspada dampak bencana hidrometeorologi jelang puncak musim penghujan yang diprediksi berakhir di akhir bulan Januari.
“Berdasarkan hasil pantauan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprediksi akan terjadi di Kabupaten Sumbawa sehingga kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada,” kata Kepala (BMKG) Sumbawa, Samriyanto kepada Suara NTB, Rabu (14/1/2026).
Di musim penghujan lanjut Sam, yang patut diwaspadai potensi terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Sebab, sifat hujannya akan rutin dengan intensitas lebat meskipun durasi yang tidak panjang.
“Kalau di musim hujan, yang perlu kita waspadai yakni bencana hidrometeorologi dan jalur penyeberangan Poto Tano-Kayangan karena potensi terjadinya ombak tinggi sangat besar, ” ujarnya.
Seraya menambahkan, untuk puncak musim hujan Sumbawa secara keseluruhan diperkirakan akan terjadi akhir bulan Januari hingga awal Februari. Begitu juga untuk Sumbawa bagian timur dan utara juga sudah mulai memasuki puncak musim penghujan.
“Jadi, untuk prediksi panjang musim hujannya rata-rata berkisar di angka 140 hingga 160 hari dengan intensitas ringan, sedang hingga lebat sehingga diimbau kepada masyarakat agar tetap waspada, ” tukasnya.
BPBD Petakan Lokasi Rawan Bencana
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan hampir seluruh wilayah Sumbawa masuk kategori rentan bencana dengan potensi bencana utama banjir dan longsor.
“Hampir 80 persen wilayah di Sumbawa berada dalam kategori rentan bencana terutama di wilayah yang berada di daerah aliran sungai (DAS) dan kaki gunung (tanah longsor),” kata Kepala Pelaksana BPBD melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Dr. Rusdianto.
Wilayah Moyo Hulu juga rentan terjadi banjir dan akan berdampak ke Kecamatan Sumbawa yang diakibatkan gempa. Hal ini bisa terjadi karena di wilayah tersebut ada dua bendungan raksasa yakni Mamak dan Batubulan dengan debit air yang mencapai ribuan kubik.
“Jika terjadi gempa diatas 7 skala richter maka bendungan raksasa ini bisa jebol bisa menimbulkan banjir yang dahsyat bahkan Sumbawa juga akan terdampak nanti,” jelasnya.
Dayat menegaskan bahwa seluruh wilayah di Sumbawa tergolong rawan bencana dengan kategori yang berbeda-beda. Ketika cuaca ekstrem, ancaman bukan hanya banjir, tetapi juga angin puting beliung dan longsor sehingga edukasi dan peringatan dini kepada masyarakat terus dilakukan.
“Intinya, kami minta masyarakat tetap waspada. Perubahan cuaca sekarang cepat sekali dan yang terpenting, kita semua siap menghadapi kemungkinan apa pun,” tambahnya.
Disinggung terkait ketersediaan logistik, Anto menyebutkan saat ini untuk logistik masih aman. Bahkan ketika terjadi bencana anggaran yang bersumber dari Biaya Tidak Terduga (BTT) siap digelontorkan Pemerintah di masa penanganan darurat.
“Kalau untuk ketersediaan logistik masih aman, kalaupun terjadi bencana yang parah maka anggaran BTT yang disiapkan daerah sudah siap digelontorkan,” tukasnya. (ils)



