Praya (suarantb.com) – Terhitung mulai tanggal 14 Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) meningkatan status kebencanaan di daerah ini menjadi tanggap darurat bencana. Menyusul terjadinya bencana banjir yang menerjang sejumlah wilayah di Loteng pekan kemarin. Dengan begitu, semua sumber daya yang dimiliki pemerintah daerah dimungkinan dikerahkan untuk penanganan daerah terdampak bencana.
Sekretaris Daerah (Sekda) Loteng H. Lalu Firman Wijaya, S.T.,M.T., yang dikonfirmasi Suara NTB, di Praya, Senin (19/1), mengungkapkan, peningkatan status tersebut diharapkan bisa mempercepat penanganan daerah terdampak bencana. Sehingga kondisi wilayah terdampak bencana bisa kembali pulih.
Jika dibutuhkan dalam kondisi mendesak, pemerintah daerah juga bisa menggunakan pos anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) selama masa tanggap darurat bencana. Kalau stok logistik sudah habis disalurkan. “Peningkatan status menjadi tanggap darurat bencana ini untuk mempercepat penangan dampak bencana diwilayah terdampak. Karena semua sumber daya dimungkinkan untuk dikerahkan,” sebutnya.
Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng H. Ridwan Mahruf mengatakan, kondisi cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Loteng diprediksikan akan berlangsung hingga bulan Maret 2026 mendatang. Masyarakat pun diingatkan untuk selalu waspada akan potensi terjadinya bencana, dampak dari kondisi cuaca ekstrem yang ada.
Ia mengungkapkan, intensitas hujan pada masa puncak musim penghujan tahun ini diprediksikan jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Bahkan disebut menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Terutama di wilayah Loteng bagian selatan yang diprediksikan mendapat curah hujan lebih tinggi dibandingkan wilayah lainya.
Sehingga penting bagi masyarakat di wilayah-wilayah yang menjadi langganan bencana, terutama banjir untuk waspada. “Kondisi saluran sungai penting diperhatikan dan dijaga. Dengan tidak membuang sampah yang bisa memicu penyempitan dan pendangkalan sungai. Sehingga bisa memicu banjir ketika hujan dengan intensitas tinggi turun,” pintanya. (kir)


