Mataram (suarantb.com) – Kebijakan meniadakan pekerjaan rumah (PR) bagi siswa memerlukan pertimbangan matang. Pasalnya, keberadaan PR dinilai punya sisi positif dan negatif bagi siswa itu sendiri.
Pemerhati Pendidikan Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Dr. Muhammad Nizaar, pada Selasa (20/1/2026) mengatakan, pekerjaan rumah perlu didesain, agar tak lagi membebani siswa.
Sebab, PR di satu sisi dapat berdampak baik dan tak jarang bisa berakibat buruk bagi siswa. Dampak itu bergantung pada situasi proses pembelajaran di kelas dan kondisi perkembangan siswa.
“PR itu ada karena urusan belajar di sekolah belum rampung. Jika sudah rampung tidak perlu PR,” ujarnya.
Ia menerangkan, ada beberapa persoalan yang perlu diperhatikan sebelum meniadakan PR bagi siswa. Pertama mengenai, struktur materi yang harus dicapai oleh siswa itu terlalu banyak.
Kedua, sekolah yang jumlah siswa dalam satu kelas mencapai 40 siswa. Dengan kenyataan itu, sulit untuk membelajarkan siswa dengan jumlah banyak
“Saya menilai siswa kita belum benar-benar belajar di kelas, sehingga tetap perlu adanya PR untuk memberikan ruang belajar bagi siswa di rumah,” kata Nizaar.
Jika PR tetap ditiadakan, ia mendorong agar waktu libur siswa mesti dikaitkan dengan aktivitas belajar. “PR harus dikemas menjadi kegiatan bersama antara orangtua dan siswa, tidak berbentuk mengerjakan soal-soal,” terangnya.
Oleh karena itu, ia berharap guru dapat mengemas PR lebih menyenangkan dan bermakna. “Istilah PR diubah dengan istilah yang lebih sesuai dan aktifitasnya adalah aktifitas belajar bersama orangtua dan anak di rumah, desain dibuat oleh guru,” tandasnya. (sib)


