spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA BIMATPA Oi Mbo Kota Bima Hampir Penuh

TPA Oi Mbo Kota Bima Hampir Penuh

Kota Bima (suarantb.com) – Pemerintah Kota Bima mendorong pengolahan sampah organik dari sumbernya melalui penerapan metode MAIKAKURA. Metode ini sebagai upaya mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Oi Mbo yang kini hampir melebihi kapasitas atau penuh. Langkah ini dinilai mendesak karena timbunan sampah mencapai 82,55 ton per hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, Syahrial Nuryadin, mengatakan tingginya volume sampah tidak sebanding dengan daya tampung TPA. Kondisi tersebut diperparah oleh pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas masyarakat. “Jumlah penduduk Kota Bima saat ini sekitar 165.100 jiwa. Dengan rata-rata produksi sampah 0,47 kilogram per orang per hari, tekanan ke TPA sangat besar,” katanya, Rabu (21/1/2026).

Total timbulan sampah harian tersebut sekitar 45,6 persen merupakan sampah organik. Artinya, hampir setengah sampah yang selama ini dibuang ke TPA, sebenarnya bisa diolah langsung di tingkat rumah tangga. “Ini potensi besar. Kalau sampah organik diolah dari rumah, beban TPA bisa ditekan signifikan,” ujarnya.

DLH Kota Bima menawarkan metode Maikakura sebagai solusi sederhana, murah, dan ramah lingkungan. Metode ini merupakan sistem pengomposan statis tertutup berbentuk lubang vertikal atau silinder yang dibangun di pekarangan rumah, halaman kantor, taman, maupun fasilitas umum. Maikakura dirancang agar sampah organik tidak perlu lagi diangkut ke TPA.

“Maikakura ini prinsipnya mengelola sampah langsung dari sumber. Sisa makanan, sayur, dan buah dimasukkan ke dalam lubang komposter untuk diurai menjadi kompos,” terangnya.

Menurutnya, metode ini mudah diterapkan masyarakat karena tidak membutuhkan teknologi rumit maupun biaya besar. Secara teknis, maikakura umumnya memiliki diameter sekitar 80 sentimeter dengan kedalaman 100-150 sentimeter. Dengan ukuran tersebut, lubang komposter mampu menampung sampah organik rumah tangga selama periode tertentu, tergantung jumlah anggota keluarga dan volume sampah harian yang dimasukkan.

Syahrial menyebut, jika diterapkan secara luas, pengolahan sampah organik melalui metode tersebut dapat mengurangi timbulan sampah rumah tangga 40-60 persen. Selain itu, hasil pengolahannya berupa kompos alami dapat dimanfaatkan untuk tanaman pekarangan dan memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Pihaknya juga memperkenalkan metode pengolahan sampah lain seperti kompos bag, ember tumpuk, takakura, dan lubang resapan biopori. Namun, maikakura dinilai paling cocok untuk diterapkan secara masif karena fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi lahan warga.

“Targetnya jelas, volume sampah organik yang masuk ke TPA Oi Mbo berkurang,” tuturnya

Pemkot Bima berharap keterlibatan aktif masyarakat dalam pengolahan sampah dari rumah menjadi kunci keberhasilan program ini. “Tanpa partisipasi warga, TPA akan terus terbebani. Maikakura adalah solusi konkret yang bisa dilakukan bersama,” tandasnya. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO