Mataram (suarantb.com) – Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, terus mendorong sekolah luar biasa untuk meningkatkan kualitas, agar berstatus sekolah ramah anak (SRA). Predikat ini penting sebagai bentuk komitmen sekolah menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman siswa-siswi.
Kabid Pendidikan Khusus (PK), Dikpora NTB, Hj. Eva Sofia Sari, Rabu (21/1/2026) mengatakan, saat ini SLB yang berstatus SRA di NTB hanya SLBN 1 Mataram. Jumlah ini relatif kecil dari total SLB di NTB, mencapai 53 sekolah. “Kalau SLB itu cuma ada satu (berlabel SRA),” ujarnya.
Eva menjelaskan, proses pengusulan hingga mendapat sertifikat sekolah ramah anak terbilang sulit. Sekolah mesti mempersiapkan berbagi persyaratan baik administratif hingga komitmen menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
“Mempersiapkan SRA itu tidak gampang. Butuh evaluasi, butuh asesmen dan sebagainya dari ahlinya,” jelas Eva.
Dalam upaya meraih sertifikat SRA, sekolah juga dituntut melakukan kolaborasi dalam rangka mewujudkan lingkungan sekolah nyaman dan kondusif bagi siswa.”Jadi tidak tunggal (syaratnya), mereka berupaya sendiri, ada deklarasi. Setelah ada deklarasi itu artinya ada komitmen,” tuturnya.
Menurut Eva, keberadaan SRA penting untuk memastikan sekolah menjadi ruang aman dan nyaman baik bagi siswa dan seluruh warga sekolah. Oleh karena itu, komitmen menciptakan lingkungan kondusif dan inklusif juga perlu ditumbuhkan sekolah agar upaya menjadikan sekolah ramah anak tidak berakhir di ujung kata.
Tujuan sekolah ramah anak juga selaras dengan semangat pendekatan pembelajaran mendalam yakni “Joyfull Learning” atau belajar menyenangkan.
“Artinya anak itu sudah siap belajar tanpa ada tekanan, tanpa ada rasa takut, tanpa takut bullying atau perundungan,” terang Eva.
Pihaknya terus mendorong SLB di NTB untuk membangun lingkungan sekolah yang sehat, ramah, dan nyaman bagi seluruh warga pendidikan. (sib)



