spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaHEADLINECuaca Ekstrem, Penyeberangan Kapal Cepat Bali-Bangsal-Senggigi Ditutup Sementara

Cuaca Ekstrem, Penyeberangan Kapal Cepat Bali-Bangsal-Senggigi Ditutup Sementara

 

Giri Menang (suarantb.com) – Pelayanan Penyeberangan Kapal Cepat rute Bali-Bangsal Kabupaten Lombok Utara menuju Senggigi Lombok Barat (Lobar) ditutup sementara. Penutupan sementara ini dilakukan pihak otoritas akibat cuaca ekstrem. Dari peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ketinggian gelombang hingga empat meter. Akibat penutupan sementara ini, penumpang di Pelabuhan Bangsal maupun Senggigi sepi.

Kepala UPP Kelas II Pemenang KLU I Made Oka SH.,MH., yang dikonfirmasi usai pertemuan dengan Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini di Kantor Bupati Lobar di Gerung, mengatakan adanya perkiraan cuaca dari BMKG, rata-rata ketinggian gelombang 2-4 meter. “Berdasarkan itulah kami tutup sementara pelayaran (kapal cepat) antara Lombok dan Bali, baik dari Nusa Penida, Serangan, Padangbai. Itu kita tutup,” katanya, Jumat (23/1/2026).

Pelayanan penyeberangan kapal cepat dari Bali ke Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Bangsal dan Senggigi ditutup sejak beberapa hari terakhir. Penutupan sementara ini dilakukan sampai situasi cuaca normal kembali menurut perkiraan BMKG.

Penutupan ini, lanjut dia, karena ada imbauan dari Pusat. Namun terkadang di masing-masing wilayah berbeda situasinya. Terkadang di Maluku kacau gelombangnya, namun kadang di Bali masih normal, sehingga bisa dilakukan penyeberangan. “Tapi acuan kita pada BMKG setempat, kita patuh pada surat edaran,” imbuhnya.

Penumpang yang tidak bisa menyeberang menggunakan kapal cepat pun beralih ke Pelabuhan Lembar dan udara. Dari data yang dimilikinya, jumlah trip dari Bali ke Bangsal sebanyak 25 ketika kondisi normal. Jumlah penumpang tergantung kapasitas kapal atau besar kecil kapal, ada kapasitas di atas 150 orang dan 200 orang. “Kalau per bulan itu rata-rata 2.000-3.000 penumpang dari kapal cepat, tapi dengan situasi sekarang ini tentu menurun,” ungkapnya

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan Lobar M. Hendrayadi mengatakan pelayanan pelayaran Pelabuhan Senggigi ditutup sementara, karena kondisi cuaca ekstrem. “Ya masih ditutup sementara, tidak ada trip,” tegasnya.

Saat normal, jumlah trip yang melayani rute Bali-Bangsal – Senggigi 3 trip tiap hari. Jumlah penumpang yang turun ke Senggigi berkisar 70-80 orang. Dengan penutupan sementara ini tentu berpengaruh terhadap pemasukan dari pelabuhan.

Sementara itu,Kepala UPT Pelabuhan Senggigi, Iskandar Zulkarnaen, mengatakan kondisi cuaca sepanjang Januari 2026 ini masih belum stabil dan terus dipantau secara ketat melalui koordinasi langsung dengan BMKG.“Memasuki bulan Januari, kondisi cuaca memang tidak menentu. Kami menerima informasi resmi dari BMKG yang langsung disampaikan ke kantor KUPP dan dikoordinasikan dengan kami di pelabuhan,” katanya.

Iskandar menjelaskan, penutupan pelabuhan bukan terjadi sekali. Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas pelayaran harus dibuka dan ditutup secara situasional mengikuti perkembangan cuaca di lapangan.

“Kalau tidak salah, pada tanggal 14 sampai 15 Januari kemarin, pelabuhan kami tutup sementara karena cuaca buruk. Saat itu tinggi gelombang di alur pelayaran mencapai sekitar 2,5 hingga 4 meter,” terangnya.

Kondisi tersebut, lanjut Iskandar, hingga kini belum mengalami perubahan signifikan. Pada hari Rabu 21 Januari 2026, tinggi ombak masih berada pada kisaran yang sama dan dinilai belum aman untuk aktivitas pelayaran, khususnya kapal penumpang jenis fast boat. “Untuk hari ini, ombak di alur pelayaran masih sekitar 2,5 sampai 4 meter. Dengan kondisi seperti ini, kapal-kapal kecil tidak memungkinkan untuk dioperasikan,” jelasnya.

Tidak hanya Pelabuhan Senggigi, penutupan operasional juga terjadi secara serentak di sejumlah dermaga lainnya, baik pelabuhan yang berada di wilayah Lombok maupun Bali, seluruhnya mengikuti instruksi keselamatan dari BMKG.“Semua dermaga pelabuhan, baik yang ada di Bali maupun di Lombok, hari ini sama-sama tidak beroperasi,” katanya.

Iskandar menegaskan, pihak pelabuhan tidak berani mengambil risiko dengan memaksakan pelayaran di tengah cuaca ekstrem. Keselamatan penumpang dan awak kapal menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan. “Kami masih menunggu rilis resmi dari BMKG. Kalau BMKG menyatakan cuaca sudah membaik dan alur pelayaran dianggap layak, maka jalur akan langsung dibuka kembali,” ujarnya.

Ia menambahkan, berdasarkan prakiraan cuaca yang dirilis BMKG, gelombang tinggi di Selat Lombok masih berpotensi terjadi, sehingga penutupan jalur pelayaran sementara harus dilakukan hingga kondisi benar-benar aman. “BMKG sudah menginstruksikan penutupan jalur pelayaran sambil menunggu cuaca membaik. Kalau sudah layak, kapal-kapal baru kami izinkan berlayar,” tutupnya. (her)

 

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO