Sumbawa Besar (suarantb.com) – Satu unit alat berat yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Raberas dalam kondisi rusak berat. Hal ini mengakibatkan tumpukan sampah menggunung lantaran yang terkumpul tidak bisa terdorong.
“Buldozer kita kan macet karena sudah tua, kita perbaiki rusak lagi begitu saja. Terpaksa kita gunakan ekskavator untuk mendorong sampah ke lokasi pembuangan,” kata Kepala UPTD persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa, Yulhaidir kepada Suara NTB.
Yul melanjutkan, kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya sampah yang dihasilkan dari potongan ranting pohon yang masuk ke TPA. Bahkan dalam sehari hasil tebangan yang masuk ke TPA bisa mencapai 10-20 truk. Belum lagi yang dibuang masyarakat secara mandiri ke TPA.
“Tren sampah tebangan ini meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu karena kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di Sumbawa. Kondisi ini sudah terjadi sejak bulan Desember,” ucapnya.
Ia melanjutkan, masalah ini juga sudah disampaikan ke pemerintah, tetapi hingga saat ini tidak kunjung dilakukan penanganan lanjutan. Ia khawatir jika alat ini tidak diperbaiki akan terjadi penumpukan sampah di akses masuk TPA karena tidak bisa terdorong ke dalam.
“Sudah sering kita sampaikan ke pemerintah terkait masalah ini tetapi tidak kunjung dilakukan perbaikan,” sebutnya.
Selain penanganan sampah di TPA lanjut Yul, penyapu jalan saat ini tersisa hanya 17 orang dari sebelumnya sebanyak 53 orang pegawai. Kondisi ini mengakibatkan satu orang pegawai harus menyapu jalan sepanjang 2 kilometer dan itu sangat berat untuk dilakukan.
“Kita hanya punya 17 orang saat ini, selebihnya sudah dirumahkan akibat kontraknya tidak diperpanjang pemerintah. Kondisi ini tentu sangat berat dirasakan,” ujarnya.
Saat ini, pihaknya juga membutuhkan armada pengangkutan khusus dalam kota yang meliputi Sumbawa, Unter Iwes, dan Labuhan Badas sekitar 37 unit truk. Belum lagi untuk penanganan di kecamatan minimal satu unit untuk armada pengangkutan sampah.
“Tentu dengan armada yang kita miliki hanya 17 unit, kami sangat terbatas sehingga penanganan yang dilakukan belum maksimal,” tukasnya. (ils)



