spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
BerandaHEADLINERatusan Hektare Lahan Kritis Diduga Pemicu Bencana di Lobar Butuh Reboisasi

Ratusan Hektare Lahan Kritis Diduga Pemicu Bencana di Lobar Butuh Reboisasi

 

Wilayah bagian selatan Lombok Barat (Lobar), khususnya Sekotong langganan bencana. Setiap musim hujan, selalu ada saja bagian dari wilayah ini yang terkena bencana. Masyarakat yang selama ini terdampak bencana butuh solusi permanen dari pemerintah.

Keberadaan embung atau bendungan di kawasan ini dinilai sebagai salah satu solusi dalam menangani bencana banjir yang kerap kali melanda. Adanya bendungan ini diharapkan sebagai pengendali bencana banjir dan kebutuhan irigasi lahan pertanian warga. Areal hutan yang kritis juga diusulkan penghijauan atau reboisasi.

Sekretaris Desa Persiapan Pengantap, Kecamatan Sekotong, Muliadi menuturkan empat dusun terdampak bencana yakni Bengkang, Sap Baru, Kebeng dan Pengantap dengan total jiwa hingga 350 KK atau 700 jiwa lebih.

Kondisi masyarakat terdampak bencana saat ini sudah mulai beraktivitas normal seperti biasa. Namun yang belum maksimal menurutnya, penanganan sodetan untuk mengurai banjir. Pasalnya, sejauh ini rencana pembangunan sodetan belum dibangun oleh Pemkab.

Sodetan itu diusulkan oleh warga untuk dibangun di belakang masjid dekat perbukitan wilayah itu. “Itu masih wacana tapi belum dibangun, karena waktu itu provinsi buru-buru tarik alat-alatnya. Begitu pula kabupaten,” akunya pada Suara NTB, Senin (26/1/2026).

Menurutnya sodetan ini salah satu solusi mengurangi banjir di wilayah itu. Terutama di wilayah utara masjid, aliran sungainya dari atas bukit bukan hanya dari sungai.

Selain itu pihaknya berharap agar dibangun bendungan di atas untuk mengurangi air turun ke pemukiman. Selain itu bisa sebagian irigasi pertanian di kawasan itu karena rata-rata petani tadah hujan. Jika ada bendungan itu, maka warga bisa menanam hingga dua kali. “Selain untuk antisipasi musim hujan (banjir), kan bisa bendungan itu untuk irigasi pertanian,. Desa sangat berharap itu (dibangunkan bendungan),” imbuhnya.

Menurutnya kemungkinan berat membangun bendungan itu, namun itu yang diharapkan warga. Pasalnya dari kemampuan desa sendiri tidak mampu dari APBDes, sebab APBDDes diusulkan prioritasnya untuk jalan, kesehatan, pendidikan dan sektor ekonomi. Bahkan dari usulan ini pun gagal di kecamatan (Musrenbangcam), karena tidak terealisasi dari usulan Musrenbangcam baik tingkat kabupaten maupun provinsi.

Untuk lokasi pembangunan bendungan bisa dilakukan di pertengahan wilayah hulu, berjarak sekitar 2-3 kilometer dari perbatasan dengan Loteng. Di lokasi ini, ada mata air Tiu Sanggar di Batu Beringge. Sumber airnya dari Loteng, yang selama ini turun ke pemukiman penduduk.

Penduduk di daerah itu rata-rata bertani dan beternak. Lahan yang digarap kebanyakan dengan membuka lahan di bukit untuk ditanami jagung. Luas areal bukit yang dibuka untuk pertanian mencapai ratusan hektare. “Ada ratusan hektare,” ujarnya.

Lahan ini berstatus hak milik, namun bukan dimiliki warga setempat, sehingga petani di wilayah itu sebagai buruh tani yang menggarap lahan milik orang.

Terkait adanya wacana pemerintah untuk mereboisasi lahan kritis ini, menurutnya bagus. Justru kata dia hal itu bagus dilakukan, namun itu harus dilakukan jangka panjang. Sebab jika sedikit atau jangka pendek, maka tidak bisa mengatasi persoalan ini.

Selain merendam rumah penduduk, banjir juga menggerus lahan pertanian warga sekitar 2 hektare. Lokasi ini tersebar sporadik di banyak titik, dengan luasan 2_3 are per titik. Akibat tanaman padi yang ditanami warga hanyut dan rusak. Pihaknya sudah melaporkan itu ke Pemkab Lobar, namun belum ada penanganan bantuan kepada para petani. “Sudah kami laporkan semua kerusakan, termasuk lahan pertanian warga, tapi belum ditindaklanjuti,” imbuhnya.

Kepala Desa Sekotong Tengah M Burham menerangkan bahwa hampir sebagian besar dusun di desanya yang berada di bagian bawah langganan banjir tiap tahunnya. Kali ini ada 13 dusun terdampak diantaranya dusun Sekotong I dengan jumlah jiwa 744 orang, Sekotong II 340 jiwa, Gunung Anyar 324 jiwa, Mekar Sari 339 jiwa, Telaga Lebur Desa 550 jiwa, Telaga Lebur Loang baloq 480 jiwa, Telaga Lebur Kebon 510 jiwa.

Kemudian Dusun Tanjung Batu 289 jiwa, Karang Lebah 222 jiwa, Gunung Kosong 405 jiwa, Suredadi 429 jiwa, Aik Tangi 412 jiwa dan Lendang Re 513 jiwa. “Total terdampak 2.214 KK dengan 5.557 jiwa,”sebut Burham. Dikatakan banjir yang tiap tahun melanda disebabkan air sungai meluap dipicu air laut naik.

Pihaknya membutuhkan solusi jangka panjang untuk penanganan banjir ini, yakni perlu pentaludan kiri dan kanan bibir sungai, baik sungai Telaga Lebur dan Canok. Beronjong atau talud sungai ini sangat minim, sehingga air dengan mudah naik ke pemukiman warga. Selain itu pihaknya butuh normalisasi sungai, karena kondisi saat ini sangat dangkal. Pendangkalan sungai hampir rata dengan bibir sungai.

Sungai setempat pernah ditangani melalui kegiatan TMMD, namun itu hanya ditangani setengah. Sedangkan dari hulu sungai belum dinormalisasi dan beronjong. Panjang sungai yang butuh penanganan sekitar 2,5 kilometer, dari hulu sampai ke hilir.

“Kami berharap dibangun tanggul (beronjong) dan normalisasi,” imbuhnya.

Pihaknya pun sudah mengusulkan penanganan ke Pemkab maupun BWS. “Sudah kami usulkan semua, tapi belum ada tanggapan,” sambungnya.

Hal serupa dialami Desa Buwun Mas, Desa Persiapan Pengantap dan Persiapan Belongas. Menurut Kadus Belongas, Nursin bahwa tiap musim hujan dusunnya dilanda banjir. “Itu berasal dari luapan air sungai, karena itu kami butuh beronjong,’’ harapnya.

Sungai di Buwun Mas yang butuh penanganan karena kondisinya parah sepanjang 6 kilometer. Dampak tidak adanya beronjong sungai, air pun begitu cepat naik ke pemukiman warga. Terlebih ketika air laut pasang, air meluap ke pemukiman dan jalan raya di daerah itu. Untuk itu, pihaknya mendesak penanganan beronjong sungai ini. “Kami berharap secepatnya ditangani, agar kita tidak lagi langganan banjir tiap musim hujan,” harapnya. (her)

 

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO