spot_img
Kamis, Januari 29, 2026
spot_img
BerandaHEADLINENTB Waspada Ancaman LSD pada Hewan Ternak

NTB Waspada Ancaman LSD pada Hewan Ternak

 

Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) waspada ancaman penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak sapi dan kerbau. Kewaspadaan ini meningkat menyusul maraknya kasus LSD di Bali dan Pulau Jawa.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB, Muhamad Riady menegaskan, sejak adanya laporan LSD di Bali, pemerintah daerah langsung bergerak cepat dengan memasang sistem peringatan dini (early warning system) dan memperkuat koordinasi lintas sektor.

“Jadi memang itu LSD sudah masuk di Bali. Kita langsung pasang early warning system. Sebelumnya sudah saya kumpulkan, sudah kita kumpul sama karantina, sama teman-teman yang lain. Itu betul-betul rapat dan sosialisasi juga,” ujarnya, Rabu, 28 Januari 2026.

Untuk memastikan penyakit kulit ini tidak sampai masuk ke NTB, pihaknya mengaku telah melakukan sosialisasi. Petugas kesehatan hewan diminta aktif memantau kondisi ternak dan segera melaporkan jika menemukan gejala yang mengarah pada LSD.

“Teman-teman yang di puskeswan terutama saya minta supaya segera kalau ada yang di jalan-jalan yang mirip, semoga segera dilaporkan dan diindikasi dengan baik. Dan dari provinsi, kami akan lakukan surveillance secara berkala,” lanjutnya.

Selain pengawasan ternak, perhatian juga difokuskan pada jalur-jalur tidak resmi atau jalur tikus yang berpotensi menjadi pintu masuk penyakit. Pengawasan di pelabuhan dan kendaraan angkut ternak juga diperketat sebagai bentuk pencegahan.

Di samping itu, Pemprov NTB memastikan tidak pernah menerbitkan rekomendasi pemasukan ternak sapi maupun kerbau, baik dari Bali maupun Jawa sejak LSD merebak.

“Kalau ternaknya memang praktis nggak pernah bakal masuk kan. Rekom nggak pernah kami berikan. Secara legal dari dulu begitu LSD merebak di Jawa kan nggak pernah kami terbitkan rekom,” jelasnya.

Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus LSD di daerah, Mantan Kepala Biro Umum Setda NTB itu menekankan masuknya LSD ke NTB akan berdampak besar terhadap peternak dan perekonomian daerah. Adanya penyakit ini dinilai dapat menutup akses pasar antarpulau. Sementara, NTB saat ini masih menjadi salah satu daerah pengirim sapi tertinggi.

“Karena kalau LSD masuk ke NTB itu kerugian peternak itu besar sekali. Belum lagi biaya untuk pengendaliannya. Kalau masuk LSD, otomatis kita tidak bisa ngirim ke Sulawesi, nggak bisa ngirim ke Kalimantan,” katanya.

Adapun dengan adanya kerja sama regional tiga pulau, NTB, Bali, NTT yang mana salah satunya di bidang peternakan. Riadi menegaskan kerja sama gugusan Sunda kecil ini tidak berdampak pada penularan penyakit sapi. Sebaliknya, antar daerah akan bekerja sama dalam memastikan pengendalian penyakit pada ternak.

Pun Pemda Bali dikatakan masih bisa mengendalikan penyebaran penyakit tersebut. Berdasarkan kasus per hari di Bali, sebanyak penyakit LSD ini dinilai masih terkendali. “Di Bali juga sudah bergerak untuk pengendalian mengisolasi ternak yang terinfeksi,” pungkasnya. (era)

 

RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO