spot_img
Kamis, Januari 29, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK BARATDampak Cuaca Buruk, Pelabuhan Senggigi Masih Sistem Buka Tutup

Dampak Cuaca Buruk, Pelabuhan Senggigi Masih Sistem Buka Tutup

 

Giri Menang (suarantb.com) – Pelayanan penyeberangan kapal cepat Pelabuhan Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Lobar) masih menggunakan sistem buka tutup. Hal ini karena dampak cuaca ekstrem melanda jalur perairan dari Bali-Bangsal KLU menuju Senggigi. Sistem pelayanan akan kondusif seperti sedia kala tergantung dari prakiraan cuaca normal dari BMKG.

Kepala Dinas Perhubungan Lombok Barat, M. Hendrayadi mengatakan, sistem pelayananan penyeberangan kapal cepat dari dan menuju Senggigi untuk sementara masih memberlakukan sistem buka tutup. Otoritas Pelabuhan Senggigi ada di UPP Pemenang dan Syahbandar, sehingga dalam hal keselamatan kapal mereka punya kewenangan atau otoritas.

Sebelumnya, penutupan dilakukan sampai tanggal 26 Januari, dampak cuaca ekstrem. Ia menambahkan saat ini dengan dibangun Dermaga. Pelabuhan Senggigi saat ini bisa disandari kapal dengan kapasitas maksimum 500 GT. Kapal yang bisa sandar sebanyak tiga unit secara paralel dengan durasi bongkar muat maksimal 50 menit. Pihaknya akan melakukan penataan di ruang tunggu pelabuhan agar lebih representatif.

Sebelumnya, Kepala UPP Kelas II Pemenang KLU I Made Oka SH., MH., mengatakan adanya prakiraan cuaca dari BMKG, rata-rata ketinggian gelombang 2-4 meter. “Berdasarkan itulah kami tutup sementara pelayaran (kapal cepat) antara Lombok dan Bali, baik dari Nusa Penida, Serangan, Padangbai. Itu kita tutup,” katanya, Jumat (23/1/2026).

Pelayanan penyeberangan kapal cepat dari Bali ke Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Bangsal dan Senggigi ditutup sejak beberapa hari terakhir. Penutupan sementara ini dilakukan sampai situasi cuaca normal kembali menurut perkiraan BMKG.

Penutupan ini, lanjut dia, karena ada imbauan dari Pusat. Namun terkadang di masing-masing wilayah berbeda situasinya. Terkadang di Maluku gelombangnya tinggi, tetapi kadang di Bali masih normal, sehingga bisa dilakukan penyeberangan. “Tapi acuan kita pada BMKG setempat, kita patuh pada surat edaran,” imbuhnya.

Penumpang yang tidak bisa menyeberang menggunakan kapal cepat pun beralih ke Pelabuhan Lembar dan udara. Dari data yang dimilikinya, jumlah trip dari Bali ke Bangsal sebanyak 25 perjalanan ketika kondisi normal. Jumlah penumpang tergantung kapasitas kapal atau besar kecil kapal, ada kapasitas di atas 150 orang dan 200 orang. “Kalau per bulan itu rata-rata 2.000-3.000 penumpang dari kapal cepat, tapi dengan situasi sekarang ini tentu menurun,” ungkapnya. (her)



RELATED ARTICLES
IKLAN

VIDEO