Selong (suarantb.com) – Harga sapi di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) kerap tidak terkendali. Fluktuasi harga sapi ini lebih sering merugikan peternak. Fakta ini terungkap saat Kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang digelar di Desa Lendang Nangka Utara, Lotim, Rabu (28/1/2026).
Sekretaris Dinas (Sekdis) Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakesaan) Lotim, drh. Suryatman Wahyudi kepada Suara NTB menjelaskan, pihaknya terus mencoba datang ke kelompok-kelompok ternak guna menyikapi keluhan peternak.
Salah satunya mengenai fluktuasi harga sapi yang seringkali tidak terkendali dan merugikan peternak. Disnakkeswan Kabupaten Lotim berkomitmen mencoba untuk membantu para peternak agar lebih sejahtera. Berdasarkan aspirasi dari masyarakat peternak, memang harga sapi yang tidak stabil akibat rantai pemasaran yang panjang, kondisi ini sering merugikan peternak.
Menanggapi hal tersebut, Suryatman Wahyudi menyampaikan sejumlah solusi konkret dari pihak dinas. Untuk masalah pemasaran, peternak disarankan menjual ternak langsung ke pasar hewan guna memotong mata rantai distribusi yang panjang, sehingga diharapkan harga lebih kompetitif dan menguntungkan.
Selanjutnya, peternak banyak juga mengeluhkan soal akses bantuan pemerintah yang dirasa masih minim diterima peternak. Hal ini karena belum terbentuknya kelompok ternak resmi, sehingga menyulitkan akses terhadap bantuan dan program pemerintah.
Mengenai kelembagaan, Disnakeswan mengharapkan peran aktif Pemerintah Desa untuk memfasilitasi pembentukan kelompok ternak. Potensi lahan dan populasi di desa ini sangat memadai. Pembentukan kelompok dinilai krusial untuk memudahkan pendampingan dan akses bantuan.
Soal kebutuhan pembinaan berkelanjutan mengenai kesehatan ternak dan manajemen pemeliharaan yang baik. Wahyudi menyebut bahwa dinas telah memiliki program petugas desa binaan yang berfungsi sebagai penghubung dan pemberi pembinaan teknis antara dinas dengan peternak di tingkat desa.
“Kegiatan KIE ini merupakan bentuk komitmen kami untuk mendengar langsung dan mencari solusi terbaik bagi permasalahan di lapangan. Sinergi antara dinas, pemerintah desa, dan peternak adalah kunci utama dalam mengembangkan potensi peternakan,” tegasnya.
Suryatman Wahyudi mengharapkan permasalahan klasik yang selama ini membelit peternak dapat segera menemui jalan keluar. Langkah ini juga dianggap sebagai momentum untuk memperkuat kelembagaan peternakan di Desa Lendang Nangka Utara menuju pengembangan yang lebih berkelanjutan dan mandiri. (rus)


