PEMERINTAH Kelurahan Tanjung Karang Permai, Kecamatan Sekarbela, mengungkapkan bahwa gelombang pasang yang menyebabkan banjir rob di kawasan wisata Pantai Viral, Lingkungan Bagek Kembar, berdampak signifikan terhadap aktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta nelayan setempat.
Akibat peristiwa tersebut, para pedagang terpaksa menghentikan aktivitas jual beli untuk sementara waktu. Selain itu, nelayan juga tidak dapat melaut karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Lurah Tanjung Karang Permai, Nani Nurkomala, mengatakan banjir rob disertai abrasi pantai berdampak langsung terhadap 42 lapak UMKM yang beroperasi di kawasan wisata Pantai Viral. Seluruh pelaku usaha tersebut saat ini belum dapat berjualan.
“Karena kondisi cuaca seperti ini, mereka belum bisa berjualan sementara sambil menunggu cuaca kembali normal,” ujar Nani, Jumat (30/1).
Selain berdampak pada UMKM, Pemerintah Kota Mataram melalui kelurahan juga mengimbau seluruh nelayan untuk tidak melaut, termasuk nelayan di Lingkungan Bagek Kembar, guna menghindari risiko kecelakaan laut akibat gelombang tinggi.
Sebagai bentuk perhatian, Pemkot Mataram melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) menyalurkan bantuan berupa beras sebanyak 10 kilogram kepada nelayan terdampak. “Untuk penerima bantuan di kelurahan kami terdapat sekitar 72 nelayan,” jelas Nani.
Terkait bantuan bagi pelaku UMKM yang tidak dapat berjualan sementara waktu, Nani menjelaskan bahwa bantuan beras tersebut saat ini diprioritaskan bagi nelayan. Hal itu disebabkan nelayan sama sekali tidak memperoleh pendapatan akibat cuaca ekstrem yang berpotensi membahayakan keselamatan saat melaut.
Untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, pihak kelurahan bersama unsur terkait terus mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir pantai, pelaku UMKM, dan nelayan agar tetap waspada. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
“Kami terus mengingatkan masyarakat bersama camat, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan kepala lingkungan,” kata Nani.
Ia juga menegaskan agar masyarakat tidak membangun bangunan permanen di kawasan pesisir pantai karena berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri dan lingkungan.
Menyinggung keberadaan tanggul sementara di lokasi Pantai Viral untuk mencegah abrasi, Nani mengatakan bahwa saat ini tanggul hanya menggunakan material jetty pada satu titik. Sementara itu, pemasangan batu boulder dari Pemerintah Kota Mataram belum terealisasi. “Kalau di situ belum, mungkin akan tetap dipasang nanti,” pungkasnya. (pan)


