Praya (Suara NTB) – Sebanyak 450 guru tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Tengah (Loteng), Jumat (30/1/2026) sore, dilantik sebagai kepala sekolah (kepsek). Terdiri dari 109 orang kepala TK dan 282 kepala SD. Ditambah kepala SMP sebanyak 59 orang.
Pengucapan sumpah jabatan dipimpin langsung Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri, S.I.P.,M.A.P., bertempat di Ballroom Kantor Bupati Loteng. Selain sebagai bagian dari penyegaran, mutasi ratusan kepala sekolah tersebut dilakukan untuk mengisi posisi kepala sekolah yang kosong. Supaya proses belajar mengajar bisa berjalan optimal.
Di hadapan kepala sekolah yang baru dilantik, Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri, S.I.P.,M.A.P., mengatakan dalam setiap proses mutasi pejabat pasti ada saja yang tidak puas. Tidak terkecuali di mutasi kepala sekolah. Bisa jadi karena merasa posisinya tidak sesuai yang diharapkan. Lantaran ditempatkan di sekolah yang jumlah siswanya sedikit.
Belum lagi soal masuknya kepentingan-kepentingan yang lain. Sehingga banyak memicu ketidakpuasan. “Ini yang terkadang saya agak malas untuk melakukan mutasi pejabat. Ada saja suara-suara yang tidak puas. Tapi mau bagaimana pun mutasi tetap harus dilakukan agar layanan pendidikan bisa terus berjalan,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan kepada kepala sekolah yang baru dilantik agar membuang rasa tidak puas, karena tidak semua guru berkesempatan menjadi kepala sekolah. Maka ketika diberikan tugas sebagai kepala sekolah, jalankan amanah yang diberikan tersebut sebaik mungkin.
“Sebagai guru kita harus siap dan bersedia ditempatkan di mana. Termasuk ketika diberikan tugas tambahan sebagai kepala sekolah,” terangnya.
Dikatakannya, menjadi kepala sekolah bukanlah tugas yang ringan. Banyak hal yang harus dipikirkan sebagai kepala sekolah, karena maju tidaknya sekolah juga sangat ditentukan oleh kepala sekolah itu sendiri.
“Menjadi kepala sekolah itu banyak tugasnya dan berat. Mulai dari mempertanggung jawakan pengelolaan dana BOS hingga tugas lainnya. Makanya guru yang ditugaskan sebagai kepala sekolah tidak diwajibkan untuk mengajar. Supaya bisa focus mengelola sekolah,” ujar Ketua DPD Partai Gerindra NTB ini.
Terlebih di era teknologi seperti sekarang ini, tugas kepala sekolah semakin berat. Di mana kepala sekolah juga dituntut untuk bisa membuat siswa-siswanya menjadi generasi yang melek teknologi. Apalagi penguasaan teknologi sangat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa yang akan datang. (kir)


