Mataram (suarantb.com) – Kinerja industri multifinance di Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Di tengah tantangan ekonomi, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) justru mengalami penurunan, seiring meningkatnya penyaluran pembiayaan.
Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) NTB, Iwan Hermawan, mengungkapkan bahwa NPL multifinance di NTB pada 2024 tercatat sebesar 2,34 persen, kemudian turun menjadi 2,12 persen pada 2025. Penurunan ini setara 0,22 persen, baik secara unit maupun nilai pembiayaan.
“Secara persentase NPL turun. Ini menunjukkan kualitas pembiayaan membaik,” kata Iwan,Minggu, 1 Februari 2026.
Berdasarkan data APPI NTB, total pembiayaan multifinance di NTB pada 2024 mencapai Rp5,1 triliun, dengan nilai kredit bermasalah (NPF) sekitar Rp119 miliar atau 2,3 persen. Sementara pada 2025, pembiayaan meningkat menjadi Rp5,3 triliun, sedangkan nilai NPF turun menjadi Rp114 miliar atau sekitar 2,1 persen.
Capaian tersebut berasal dari aktivitas 36 cabang perusahaan multifinance yang beroperasi di NTB.
Menurut Iwan, penurunan NPL ini terjadi meskipun perusahaan pembiayaan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian.
“Kalau selektif sudah pasti, tapi di sisi lain kami juga harus tumbuh untuk mendukung perekonomian daerah,” ujarnya.
Memasuki 2026, APPI NTB memandang prospek industri multifinance masih sangat positif. NTB dinilai menjadi salah satu wilayah fokus pertumbuhan pembiayaan, khususnya di kawasan Indonesia timur.
“Sebagian besar multifinance masih fokus ekspansi di Indonesia timur, terutama NTB. Kami optimistis karena tiga tahun berturut-turut pembiayaan terus tumbuh,” jelasnya.
Iwan menambahkan, pertumbuhan ini didorong oleh sektor pertanian serta berbagai program pemerintah yang membuka peluang kerja baru. Salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
“Program-program pemerintah ini membuat masyarakat mulai memiliki pekerjaan yang lebih tetap, sehingga kemampuan bayar meningkat dan berdampak positif ke pembiayaan,” katanya.
Dengan tren pembiayaan yang terus tumbuh dan risiko kredit yang terkendali, APPI NTB optimistis industri multifinance tetap menjadi salah satu penopang pergerakan ekonomi daerah di tahun 2026. (bul)



