spot_img
Selasa, Februari 3, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURPAD Sektor Perindustrian Terendah di Lotim, Pabrik Porang Belum Beroperasi Terkendala Bahan...

PAD Sektor Perindustrian Terendah di Lotim, Pabrik Porang Belum Beroperasi Terkendala Bahan Baku

Selong (suarantb.com) – Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor perindustrian Kabupaten Lombok Timur (Lotim) untuk tahun 2025 terkoreksi. Realisasi dipastikan jauh dari target bahkan terendah se-Lotim yang ditetapkan sebesar Rp260 juta, dengan penyebab utama adalah belum beroperasinya pabrik pengolahan porang. Kendala utama pada bahan baku.

Kepala Dinas Perindustrian Lotim, Hariadi Surenggana, mengonfirmasi hal ini. Ia menjelaskan bahwa dari target Rp260 juta tersebut, kontribusi terbesar diharapkan berasal dari komoditas porang, yaitu sebesar Rp200 juta. Sayangnya, harapan itu belum dapat terwujud.

“Targetnya tahun 2025 itu Rp 260 juta untuk PAD dari Dinas Perindustrian. Khusus dari porang Rp200 juta. Akan tetapi, ternyata porang itu kan belum siap dioperasi. Hal itu karena bahan bakunya yang masih menunggu,” jelas Hariadi.

Ia memaparkan bahwa pabrik porang membutuhkan pasokan bahan baku yang memadai dan berkelanjutan. Saat ini, proses penyediaan bahan baku masih dalam tahap pengembangan.

“Dan alhamdulillah, sekarang 400 hektare sudah tertanam, sehingga tahun 2026 sudah mulai full penuh dioperasikan. Sehingga otomatis yang Rp200 juta itu tidak ada realisasinya tahun ini,” tambahnya.

Selain dari porang, target PAD juga bersumber dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Kotaraja, dengan rincian Rp50 juta dari pengolahan logam dan Rp10 juta dari sewa lahan. Namun, sumber penerimaan ini juga mengalami kendala.

“Lalu yang Rp60 juta itu, itu dari UPT yang di Kotaraja, yakni logam Rp50 juta, dan Rp10 juta untuk sewa lahan yang di kiri-kanan. Tapi tahu-tahu mendadak mereka putus kontrak,” ujar Hariadi.

Dengan dua faktor utama tersebut—pabrik porang yang tertunda operasinya dan pemutusan kontrak di UPT Kotaraja—realisasi PAD sektor perindustrian diproyeksikan menjadi yang terendah dibanding sektor lainnya tahun ini.

Pemerintah daerah kini memusatkan harapan pada tahun 2026. Dengan luas tanam porang yang telah mencapai 400 hektare, pabrik pengolahan diharapkan dapat beroperasi secara penuh, sehingga mampu menyumbang pendapatan yang signifikan dan mengerek realisasi PAD sektor perindustrian di masa mendatang.

Kepala Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, terpisah menjelaskan tahun 2025 lalu sudah dilakukan penanaman di atas lahan seluas 4 hektare. Penanaman akan menggunakan sistem tegakan.“Kita menanam dengan sistem tusip/tegakan dengan konsep pengemukan karena yang kita tanam adalah umbi yang beratnya berkisar 250 – 300 gram,” jelas Fathul Kasturi.

Dengan menggunakan bibit umbi berkualitas tersebut, masa tanam hingga panen relatif singkat. Estimasi panen diproyeksikan dalam waktu 6 hingga 7 bulan setelah tanam.“Target produksi kita minimal 100 ton. Kita rata-ratakan, setiap umbi akan menghasilkan 2 kilogram,” tambahnya.

Lokasi penanaman porang seluas 4 hektare tersebut akan dibagi merata di empat desa, dengan masing-masing desa mendapatkan jatah 1 hektare. Keempat desa yang menjadi sasaran program ini adalah Desa Pengadangan Barat.Kecamatan Pringgasela, Desa Lenek Duren Kecamatan Lenek, Desa Sajang dan Desa Bilok Petung Kecamatan Sembalun

Program budi daya porang ini diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat di empat desa tersebut. Porang, yang dikenal sebagai komoditas ekspor yang menjanjikan, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani dan menyumbang terhadap pertumbuhan sektor pertanian di Lombok Timur. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN


VIDEO