Dompu (suarantb.com) – Petani di Kabupaten Dompu mulai panen. Hasil panen relatif rendah dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) Rp6.500 per kilogram. Rendahnya harga jual gabah kering, karena diduga petani terlilit ijon. Hal ini disampaikan Koordinator Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Kecamatan Woja, Nurdin, SST, Selasa (3/2/2026) kemarin.
“Beberapa petani kita terlibat sistem ijon. Mereka mengambil dulu uang pengusaha, saat panen gabah terpaksa mereka jual gabahnya ke tengkulak. Walau dengan harga di bawah HPP,” ungkap Nurdin.
Petugas Penyuluh Lapangan yang menjadi mitra Bulog dalam penyerapan dan menjaga stabilitas harga gabah petani, juga telah berkoordinasi dengan Bulog Bima. Termasuk meminta Bulog untuk memaksimalkan anggotanya di Dompu dalam penyerapan gabah petani.
“Bulog sudah mulai menyerap seperti di Nowa mereka turunkan 2 truk. Mereka beli dengan HPP Rp6.500 per kilogram, sehingga tidak banyak berdampak ke harga gabah petani se-Kabupaten Dompu,” kata Nurdin.
Kendati demikian, Nurdin mengaku, dalam kunjungan bersama koordinator penyuluh kecamatan se Kabupaten Dompu di Bulog telah mengingatkan untuk memasifkan penyerapan gabah petani. Termasuk menurunkan petugas Bulog ke desa-desa lumbung pangan bersama Babinsa dan PPL. “Alasan Bulog belum masif serap gabah, karena masih penuh gudangnya,” jelas Nurdin.
Pihaknya telah diminta melaporkan data ketersediaan alsintan di setiap desa. Instruksi ini diminta langsung olah Staf Ahli Mentri Pertanian dalam kunjungannya ke Dompu pekan lalu.
Panen muda gabah sering terjadi akibat ketersediaan alat pemotong padi yang terbatas. Karena alat panen digunakan bergantian dengan petani lainnya. Selain itu, mobilitasasi alat juga cukup memberatkan. Sehingga beberapa petani terpaksa menunda panen dan atau memajukan masa panen sesuai ketersediaan alat panen. “Untuk menghindari itu, kami sudah sampaikan data ketersediaan alsintan tiap desa. Kedepan kita juga akan memaksimalkan alat brigade yang ada, sehingga petani tidak dirugikan,” ungkapnya.
Berdasarkan data di Desa Matua, petani menjual gabah seharga Rp5,5 ribu per kilogram. Harga ini cukup jauh dari HPP. Namun, petani terpaksa memanen dan menjualnya. “Apalagi kemarin sempat ada hama tikus dan wereng, sehingga produksi padi menurun. Kita juga terkena imbas. Karena hitungan biaya kami berdasarkan jumlah produksi gabah,” ungkap Muhtar.
Pimpinan Cabang Divre Bulog Bima, Alfan menegaskan, Bulog tetap menyerap gabah petani sesuai penugasan dari pemerintah. Bulog Bima juga sudah mulai menyerap gabah petani. Sesuai penugasan, Bulog akan tetap melibatkan PPL dan Babinsa dalam penyerapan gabah. Petani juga diharapkan dapat mengikuti saran teknis dari PPL, untuk menjaga kualitas gabah dan terhindar dari panen sebelum waktu.
“Sesuai ketentuan HPP Bapanas, Gabah Kering Panen (GKP) dihargai 6.500 per kilogram dengan menyertakan surat pernyataan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) bahwa gabah yang dipanen sudah memasuki umur panen untuk menjaga kualitas gabah yang dipanen sebelum waktunya (masih hijau),” jelas Alfan.
Panen muda pada tanaman padi kata dia, akan berdampak signifikan pada kualitas dan kuantitas hasil panen. Karena akan menurunkan hasil giling dan menurunkan kualitas beras yang dihasilkan. (ula)



