ANGKA 22,39 persen masih membayangi perjalanan Kabupaten Lombok Timur (Lotim) dalam memerangi kekerdilan atau stunting. Meski menunjukkan tren penurunan, prevalensi hingga Desember 2025 itu tetap menempatkan Lotim sebagai daerah dengan beban stunting tertinggi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Tantangan kian nyata dengan terungkapnya tambahan 545 kasus baru hanya dalam bulan Januari 2026, sebuah pengingat keras bahwa perjalanan masih panjang.
Menyikapi kondisi ini, Pemkab Lombok Timur kini menggenjot strategi baru yang menitikberatkan pada dua hal: akurasi data dan kolaborasi yang lebih solid. Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Wakil Bupati Lombok Timur, H. Moh. Edwin Hadiwijaya, yang juga memimpin Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S).
“Keakuratan data adalah landasan fundamental untuk intervensi yang tepat sasaran. Rapat dan pendampingan ini sangat penting untuk memperkuat langkah strategis kita yang berbasis data akurat dan terukur,” tegas Edwin saat menjawab Suara NTB di ruang kerjanya.
Edwin langsung memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengecekan ulang data dari seluruh 21 kecamatan. Ia juga menekankan perlunya merangkul organisasi kemasyarakatan dalam kolaborasi ini. Program andalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dioptimalkan, dengan dukungan aplikasi Kompas dari BPS untuk memastikan adanya “satu data” yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pentingnya pendekatan berbasis data ini mendapatkan penegasan dari pemerintah pusat. Arifin Effendi Hutagalung, Ketua Tim Pendamping dari Kementerian Dalam Negeri saat berkunjung ke Lotim akhir Januari 2026 lalu. Dia mengingatkan komitmen nasional untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029. Target itu mengharuskan akselerasi yang signifikan.
“Pencegahan stunting tidak hanya mengandalkan perluasan program, tetapi harus ditopang oleh kualitas perencanaan berbasis analisis data yang tajam serta konvergensi lintas sektor yang kuat,” jelas Arifin dalam kunjungannya ke Lotim. Pernyataan ini sekaligus menjadi dorongan dan tekanan bagi daerah untuk memperbaiki tata kelola penanganan stunting.
Intervensi Holistik: Dari Pendampingan ke Dapur Sehat
Di garis depan, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim memperkuat intervensi secara holistik. Kepala DP3AKB Lotim, sebelumnya Hasbi Santoso, menyatakan berbagai program dijalankan untuk menekan angka kekerdilan.“Langkah penguatan kami lakukan agar bisa menekan kasus tersebut,” ujar Hasbi.
Strateginya perlu keterlibatan semua pihak. Peetama, pendampingan Intensif oleh Tenaga Pendamping Keluarga (TPK) kepada Keluarga Risiko Stunting (KRS). Edukasi Gizi Langsung melalui program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Terakhir, perlu nguatan Koordinasi lewat Tim Pembina Wilayah dan Tim Pengendali GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).
Hasbi mengakui kompleksitas penyebab kasus baru, yang meliputi faktor gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pola asuh, penyakit infeksi, hingga masalah sosial ekonomi dan perkawinan anak. Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara spesifik sesuai akar masalah masing-masing kasus, dengan pembagian peran yang jelas antara intervensi spesifik dari Dinas Kesehatan dan intervensi sensitif dari lintas sektor.
Upaya ini tidak dilakukan sendiri. Kegiatan pendampingan di Lotim juga dihadiri perwakilan dari Bappeda se-Pulau Lombok dan Kabupaten Sumbawa Barat, menunjukkan semangat berbagi pembelajaran antar daerah. Sinergi internal juga dikuatkan.
Kepala Dinas Kesehatan Lotim, Lalu Aries Fahrozi, menegaskan komitmen untuk memperkuat intervensi spesifik dan bersinergi dengan semua pihak, dengan menempatkan Puskesmas dan Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan.
Dengan langkah-langkah konkret yang kini lebih terpadu dan berbasis data, Lotim berharap dapat mendorong percepatan penurunan stunting. Misi yang diemban berat: melepas status sebagai daerah tertinggi, menghentikan laju kasus baru, dan mendekatkan diri pada target nasional. Pertaruhan ini bukan sekadar tentang angka statistik, melainkan tentang masa depan anak-anak Lotim yang lebih sehat dan optimal.
Tekan Stunting dari MBG
Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lotim dihadapkan juga bisa berbanding lurus dengan upaya penurunan stunting. Kepala Dikes menaruh harapan, seiring dengan makin banyaknya dapur MBG tidak kemudian paradoks dengan tujuannya menekan kasus stunting.
Diketahui, jumlah dapur MBG di Lotim saat ini beroperasi sebanyak 150 titik. Jumlah ini kabarnya akan terus bertambah seiring dengan makin banyaknya Jumlah Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan Dikes.
Khusus sasaran yang bersinggungan langsung dengan stunting ini adalah diberikannya MBG kepada ibu hamil, ibu mangusii dan bayi di bWah Lom tahun. Tiga sasaran ini disebut juga dengan istilah B3 (Bumil, Busui dan Balita-red).
Kadikes menyebut, jumlah sasaran B3 di Lotim, pertama Bumil sebanyak 23.367, jumlah ibu menyusui sebanyK 19.682 orang, terakhir jumlah balita sebanyak 87.093 jiwa. Harapannya, semakin bergizi konsumsinya maka kualitas kesehatan anak-anak generasi penerus bangsa ini makin baik. (rus)



