Mataram (suarantb.com) – Sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Mataram, mulai menyiapkan tempat sampah dari gumbleng, bak, dan karung plastik. Langkah ini dilakukan menyusul imbauan penerapan Tempah Dedoro di setiap sekolah.
Tempah Dedoro merupakan salah satu strategi utama Pemerintah Kota Mataram, dalam mereduksi sampah dari sumbernya. Program ini disiapkan sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah di Kota Mataram.
Salah satu sekolah yang mulai menerapkan program Tempah Dedoro adalah SMPN 6 Mataram. Waka Umum, I Gusti Nyoman Saptari, Kamis (5/2/2026), menjelaskan, program Tempah Dedoro sudah dimulai dengan memasang gumbleng di area sekolah. Satu lubang diisi tiga gumbleng untuk membuang sampah organik.
“Kita butuh sekitar delapan rencananya. Karena melihat tumpukan sampah setiap hari itu lumayan banyak,” jelasnya.
Saptari memastikan, program “Tempah Dedoro” di SMPN 6 Mataram sudah mulai berjalan minggu depan. Di samping itu, pihaknya akan menambah jumlah gumbleng di setiap titik di lingkungan sekolah.
Selain itu, sosialisasi kepada siswa juga menjadi rangkaian persiapan SMPN 6 Mataram untuk menyukseskan program Pemkot Mataram ini. “Kita perlu sosialisasi dulu kepada anak untuk memilah mana sampah yang organik dan non-organik,” tuturnya.
Strateginya, mula-mula sampah dipilah ke dalam dua jenis yakni organik dan non-organik. Sampah organik nantinya ditaruh ke gumbleng untuk proses pengomposan. Sementara, sampah non-organik didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomis.
“Sampah non-organik ini nanti apakah akan dijual sama siswa itu kami serahkan kepada bagian kewirausahaan di OSIS,” terang Saptari.
Hal yang sama telah dilaksanakan SDN 37 Cakranegara. Hanya saja, pihak sekolah tidak menggunakan gumbleng, melainkan karung plastik sebagai tempat pembuangan sampah.
“Kita pakai karung. Setiap kelas kita taruhkan karung untuk sampah yang non-organik,” ujar Kepala SDN 37 Cakranegara, Alwi.
Sementara sampah organik, pihak sekolah tempatkan di pembuangan khusus di belakang sekolah. “Nanti setiap satu minggu sekali diangkut,” jelasnya.
Untuk memastikan penerapan program Tempah Dedoro ini berjalan lancar, sekolah juga terus mengedukasi siswa tentang pemilahan sampah. Bahkan, sekolah juga menekan untuk pengurangan penggunaan sampah plastik.
“Kantinnya juga sudah kita arahkan tidak boleh menggunakan stereofom,” tandasnya.
Penerapan program Tempah Dedoro di lingkungan sekolah terus didorong oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram. Langkah ini perlu dilakukan untuk mencegah penumpukan sampah dan memastikan baik sampah organik dan non-organik terpilah dengan baik.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Mataram, Naufal Aldian mengatakan, pihaknya terus mengingatkan sekolah untuk membuat Tempah Dedoro. Sebab, masih terdapat sekolah yang belum melaksanakan program tersebut.
Naufal menyebut, dari total sekolah di Mataram sekitar 80 persen yang sudah membuat tempat penampungan dan pemilahan sampah itu.
“Ada yang belum. Sebagian yang belum. Kalau sekolah-sekolah negeri hampir 80 persen sudah buat,” ujarnya.
Dalam pertemuan dengan seluruh kepala sekolah, Naufal memperlihatkan proyeksi pembuatan Tempah Dedoro. Dengan cara itu, diharapkan sekolah mempunyai gambaran terkait tata cara pembuatannya.
Naufal berharap, dari gambaran singkat tentang teknis pembuatan tersebut, sekolah dapat berinovasi dan berkreasi lebih lanjut. “Sehingga Tempah Dedoro di sekolah ada estetikanyalah. Biar tidak kelihatan seperti bak sampah dan semrawut” tandas Naufal. (sib)



