Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,2 miliar untuk pemasangan ulang batu boulder sebagai pemecah gelombang (breakwater) di tiga titik pesisir Pantai Ampenan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi abrasi dan perlindungan infrastruktur publik dari ancaman gelombang pasang yang hampir setiap tahun terjadi.
Tiga lokasi prioritas tersebut meliputi kawasan Lingkungan Pondok Perasi, Kelurahan Bintaro, Pantai Loang Baloq,Kelurahan Tanjung Karang dan Lingkungan Mapak, Kelurahan Jempong Baru. Masing-masing titik mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp400 juta.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, menjelaskan anggaran tersebut dibagi rata dengan mempertimbangkan keterbatasan dana serta tingkat urgensi kerusakan di masing-masing lokasi.
“Upaya ini kami lakukan sebagai pemecah gelombang atau breakwater. Karena dana terbatas, kami memprioritaskan lokasi yang dampaknya paling parah,” ujarnya, Jumat (6/2).
Menurut Lale, penentuan lokasi didasarkan pada tingkat abrasi yang sudah mengancam kawasan sensitif. Di antaranya kawasan pesisir Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, serta Loang Baloq di Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela.
“Di Loang Baloq abrasi sudah mendekati bibir kolam retensi. Ini cukup mengkhawatirkan, sehingga perlu penanganan cepat,” jelasnya.
Secara teknis, pemasangan batu boulder dilakukan dengan skema susunan batu berukuran besar yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 25 hingga 30 meter per titik. Namun, panjang tersebut bersifat fleksibel dan menyesuaikan kondisi lapangan.
“Kondisi geografis sangat menentukan. Kalau pantainya curam, panjang bisa dikurangi. Tapi kalau landai seperti di Loang Baloq, pemasangannya bisa lebih panjang,” terang Lale.
Ia menambahkan, pemasangan batu boulder sebagai tanggul darurat ditargetkan rampung dalam waktu sekitar satu pekan ke depan. Namun, progres pekerjaan tetap bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan material batu yang didatangkan dari lokasi Kaori, mengingat batu boulder merupakan material khusus dari bongkahan gunung.
Pemerintah Kota Mataram berharap pemasangan breakwater ini dapat menjadi benteng awal yang efektif untuk melindungi wilayah pesisir dari ancaman gelombang pasang yang diprediksi masih akan berlangsung.
“Mudah-mudahan ini cukup efektif untuk menahan gelombang pasang, karena berdasarkan prediksi, kondisi gelombang ekstrem masih akan berlanjut,” pungkasnya.
Sementara itu, terkait rencana pemasangan pemecah gelombang permanen yang sebelumnya telah diusulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum, Lale menyebut hingga saat ini Pemkot Mataram masih menunggu keputusan dari pemerintah pusat untuk realisasi program tersebut. (pan)



