Mataram (suarantb.com) —Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Astindo) NTB menyoroti persoalan lokasi pembuangan sampah yang berada di kawasan Bintaro, Kota Mataram. Keberadaan tumpukan sampah di jalur yang kerap dilalui wisatawan dinilai berdampak negatif terhadap citra pariwisata NTB.
Ketua Astindo NTB, Sahlan M Saleh, mengatakan persoalan sampah merupakan masalah bersama, namun penempatan lokasi pembuangan sampah harus dilakukan secara lebih arif dan bijaksana, terutama di wilayah yang menjadi akses utama pariwisata.
“Persoalan sampah ini memang belum selesai-selesai. Tapi Kota Mataram harus lebih arif meletakkan lokasi pembuangan sampah. Jangan sampai berada di area pariwisata atau jalur yang sering dilalui wisatawan,” ujar Sahlan, Jumat, 6 Februari 2026.
Menurutnya, tumpukan sampah di pinggir jalan kawasan Bintaro sudah sangat tidak elok dipandang. Kondisi tersebut kerap menimbulkan pertanyaan dari wisatawan yang melintas, sehingga pelaku pariwisata harus memberikan penjelasan tambahan yang seharusnya tidak perlu.
“Ketika wisatawan melewati jalur itu, pagi, siang, maupun sore, mereka bertanya kenapa ada pembuangan sampah di pinggir jalan. Kami sebagai pelaku pariwisata jadi harus menjelaskan bukan hanya tentang destinasi, tapi juga soal sampah,” katanya.
Sahlan menilai, lokasi pembuangan sampah seharusnya ditempatkan di lokasi lebih ke dalam dan tidak berada di jalan utama menuju destinasi wisata, termasuk jalur yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata di Lombok bagian utara.
“Mohon kepada Wali Kota Mataram agar lokasi pembuangan sampah itu direlokasi. Jangan di jalan utama, carilah lokasi yang lebih ideal dan tidak terlihat langsung oleh wisatawan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pariwisata Kota Mataram, tetapi juga citra pariwisata NTB secara umum. Pasalnya, jalur tersebut merupakan akses menuju sejumlah destinasi unggulan di Pulau Lombok seperti ke Senggigi, Gili-gili di Lombok Utara, dan akses ke Gunung Rinjani.
Lebih jauh, Sahlan juga menyinggung arahan Presiden Prabowo terkait penanganan sampah di destinasi wisata saat Raker dengan seluruh kepala daerah di Indonesia. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi hilir, tetapi juga harus menyentuh perubahan perilaku masyarakat.
“Pengelolaan sampah di destinasi wisata kita masih belum cukup baik. Salah satu yang kurang adalah perilaku masyarakat. Edukasi harus terus dilakukan, baik melalui kampanye, pelatihan, sekolah, hingga tempat ibadah,” jelasnya.
Ia menilai, fasilitas tempat sampah di lingkungan permukiman juga masih minim. Kondisi ini membuat masyarakat cenderung membuang sampah sembarangan karena tidak tersedia sarana yang memadai.
“Kita harus edukasi masyarakat bagaimana cara membuang sampah yang benar. Bukan menyalahkan, tapi memberikan pemahaman. Kalau dari hulunya tidak berubah, sebaik apa pun pengelolaan di hilir akan tetap bermasalah,” katanya.
Meski demikian, Sahlan mengakui bahwa secara umum pengelolaan sampah di destinasi wisata NTB relatif lebih baik dibandingkan beberapa daerah lain. Namun, ia menegaskan masih diperlukan pembenahan serius agar NTB benar-benar siap sebagai destinasi wisata berkelas dunia. (bul)



