Selong (suarantb.com) – Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) secara resmi melakukan transformasi pada salah satu destinasi wisatanya. Kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Sunrise Land Lombok (SLL) kini berganti nama menjadi Sunrise Point Lombok (SPL). Dari SPL ini, Lotim dapat sewa Rp70 Juta per tahun.
“Perubahan ini bukan sekadar pergantian label, melainkan menandai babak baru pengelolaan dengan nilai investasi yang lebih signifikan. Nilai sewa kawasan tersebut naik dari sebelumnya Rp50 juta menjadi Rp70 juta per tahun,” terang Kepala Dinas Pariwisata Lotim, Widayat, Jumat, 6 Februari 2026.
Widayat menjelaskan, revitalisasi nama dan konsep dilakukan untuk menyesuaikan dengan visi pengembangan terkini. Peluang tersebut langsung menarik minat investor. Seorang investor lokal telah menyatakan kesanggupan mengelola destinasi dengan nilai sewa yang lebih tinggi, yaitu Rp70 juta per tahun.
Tidak hanya itu, geliat investasi juga datang dari Jakarta. Investor dari ibu kota berencana menambah berbagai wahana permainan, seperti banana boat, untuk memperkaya pengalaman wisata dan meningkatkan daya tarik pengunjung.
Widayat menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan strategi pemerataan pembangunan pariwisata Lombok Timur. Tidak hanya berfokus pada kawasan andalan seperti Sembalun dan Tetebatu.
Ia menegaskan, pengembangan wisata di Lotim inginnya bisa lebih luas. Sebaran wisata lebih merata. Melalui Sunrise Point Limbok, dia berharap ada pilihan destinasi lain yang lebih dekat dan potensial.
Dengan revitalisasi ini, Dispar Lombok Timur berharap Sunrise Point Lombok dapat tumbuh menjadi destinasi alternatif yang unggul, mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar, dan memperkuat fondasi pariwisata daerah secara keseluruhan.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Samsul Hakim sebelumnya menjelaskan di Lotim sebenarnya terdapat 183 objek wisata. Sebagian besar belum terkelola dengan baik dan memberikan sumber pendapatan bagi Lotim.
Dispar hanya bisa meraup PAD di delapan destinasi yang menjadi fokus pengembangan pendapatan, yaitu Joben, Timba Nuh, Labuhan Haji, Kerakat, Sembalun Puri Rinjani, Pusuk Sembalun, Kolam Renang Anjani yang merupakan hasil kerja sama dengan desa, Pantai Kura-kura Ekas, dan Bukit Kayangan Labuhan Lombok. Dari target Rp500 juta tahun 2025, terealisasi hanya Rp 400 juta. (rus)



