spot_img
Selasa, Februari 10, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURMentan RI Sebut Kualitas Bibit Bawang Putih Sembalun Ungguli Impor

Mentan RI Sebut Kualitas Bibit Bawang Putih Sembalun Ungguli Impor

Selong (suarantb.com) – Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman, secara resmi menetapkan kawasan Sembalun, Lombok Timur, sebagai pusat perbenihan nasional bawang putih. Penetapan ini disampaikan saat Mentan melakukan tanam raya perdana di daratan yang berada di ketinggian sekitar 1.150 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (MDPL) tersebut pada Senin (9/2/2026). Hal ini sebagai bagian dari strategi percepatan swasembada.

Mentan Amran menyampaikan keyakinannya bahwa bawang putih Sembalun memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan produk impor. “Kualitasnya sangat bagus kalau dibandingkan dengan bawang impor. Karena ini berada pada ketinggian 1.200 MDPL,” tegas Amran

Untuk melindungi petani dari fluktuasi harga, pemerintah menyiapkan skema Harga Pembelian Pemerintah (HPP). “Ke depan kita ada harga pembelian pemerintah, tidak boleh petani rugi. Petani itu sederhana, jangan buat rugi, mereka pasti akan berproduksi,” ujar Amran.

Ia juga menargetkan ketergantungan impor dapat dihentikan dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Optimisme ini didukung produktivitas tinggi di Sembalun yang mencapai 20-28 ton per hektare.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menambahkan bahwa seluas 750-1000 hektare di Sembalun akan difokuskan untuk pembenihan. Sementara, daerah dataran tinggi lainnya di NTB akan dikembangkan untuk kebun konsumsi. Rencana pembangunan pabrik pakan ternak terintegrasi di NTB juga diungkap untuk menyerap jagung lokal.

Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menyambut baik fokus pengembangan Sembalun sebagai lumbung benih. “Harapan saya ke depan, Sembalun tetap diandalkan sebagai lokasi pembenihan nasional,” kata Haerul. Ia memaparkan, dengan biaya produksi maksimal Rp80 juta per hektare dan hasil 20 ton, petani berpotensi mendapat pendapatan kotor sekitar Rp160 juta.

“Sebagai lokasi untuk membuat benih secara nasional, saya sudah susun bahwa Sembalun boleh untuk beli (benih), tapi di bawah Sembalun untuk produksi untuk konsumsi,” jelas Bupati Haerul, mengisyaratkan pola pengembangan berbasis zonasi.

Ia mendorong semua pihak, mulai dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), distributor, hingga stakeholder lainnya, untuk aktif mendata, membuat calon percontohan (CPC), dan mengembangkan lokasi tanam bawang putih secara lebih luas. Targetnya ambisius: menjadikan Lombok Timur sebagai kabupaten penghasil bawang putih terbesar pada tahun ini.

Saat ini, luas lahan bawang putih yang sudah tercatat adalah 750 hektare. Angka ini masih di bawah permintaan Menteri Pertanian yang menginginkan lahan lebih luas, mengingat potensi lahan masyarakat yang ada bisa mencapai hampir 2.000 hektare. Dukungan dari pemerintah pusat juga datang melalui bantuan untuk dua titik pengembangan (PPN).

“Kita harapkan nanti Lombok Timur jadi. Cuman, mungkin permasalahan keluhan petani, pascapanen seringkali petani mengeluh dengan harga dan pasar yang tidak menentu,” aku Bupati Haerul.

Bupati Iron, sapaan karib Bupati Lotim, melakukan analisis sederhana untuk menggambarkan potensi keuntungan. Dengan asumsi 1 hektare menghasilkan 20 ton bawang putih dan biaya usaha tani maksimal Rp80 juta, maka jika dijual dengan harga dasar tertentu, petani bisa meraup pendapatan sekitar Rp 160 juta, atau dua kali lipat dari modal.

Namun, ketidakpastian harga menjadi masalah utama. Ia menyayangkan belum adanya Keputusan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk bawang putih seperti halnya gabah atau jagung.

“Karena memang kita tidak punya produksi yang banyak. Nah, ketika nanti produksi kita banyak, pasti HPP-nya akan hadir,” ujarnya optimis. Artinya, peningkatan luas tanam dan produktivitas menjadi kunci untuk mendorong intervensi harga yang lebih stabil dari pemerintah.

Salah satu penangkar benih, H. Egi Prisma Suryaji, menyebut kunjungan Mentan sebagai tonggak sejarah. “Mudah-mudahan menjadi tonggak semangat masyarakat untuk tetap menanam bawang putih,” ujarnya. Saat ini, Lombok Timur telah mencapai produktivitas 21 ton per hektare.

Untuk tahun 2026, direncanakan pengembangan kawasan perbenihan seluas 800 hektar di Sembalun, yang diperkirakan menghasilkan sekitar 800 ton benih. “Sembalun sejauh ini menjadi sentra benih bawang putih, tidak hanya untuk daerah sendiri, tetapi sudah bisa dikirim ke banyak daerah,” pungkas Egi, berharap daerahnya dapat menjadi penopang benih bawang putih nasional.

Dengan sinergi pusat-daerah dan dukungan penuh petani, Sembalun diproyeksikan menjadi jantung kebangkitan bawang putih nasional menuju swasembada 2029-2030. Kebijakan dan Target Swasembada

Untuk melindungi petani dari fluktuasi harga, pemerintah menyiapkan skema Harga Pembelian Pemerintah (HPP). “Ke depan kita ada harga pembelian pemerintah, tidak boleh petani rugi. Petani itu sederhana, jangan buat rugi, mereka pasti akan berproduksi,” ujar Amran.

Ia juga menargetkan ketergantungan impor dapat dihentikan dalam 3 hingga 5 tahun ke depan. Optimisme ini didukung produktivitas tinggi di Sembalun yang mencapai 20-28 ton per hektar.

Salah satu penangkar benih, H. Egi Prisma Suryaji, menyebut kunjungan Mentan sebagai tonggak sejarah. Untuk tahun 2026, direncanakan pengembangan kawasan perbenihan seluas 800 hektare di Sembalun, yang diperkirakan menghasilkan sekitar 800 ton benih.

“Sembalun sejauh ini menjadi sentra benih bawang putih, tidak hanya untuk daerah sendiri, tetapi sudah bisa dikirim ke banyak daerah,” pungkas Egi, berharap daerahnya dapat menjadi penopang benih bawang putih nasional.

Dengan sinergi pusat-daerah dan dukungan penuh petani, Sembalun diproyeksikan menjadi jantung kebangkitan bawang putih nasional menuju swasembada 2029-2030. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN


VIDEO